Semua bermula sejak kelas 1 SMA, pada malam perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan. Di antara dingin dan cahaya api unggun, Aneska Aluna Maheswari pertama kali bertemu Arvian Marega Jovani, kakak kelas panitia yang terlalu santai, terlalu percaya diri, dan sangat menyebalkan.
Arvian bukan siswa terpintar. Ia gemar bercanda di saat serius dan jarang menunjukkan perasaan dengan jelas. Namun saat Aneska hampir menyerah karena lelah, dialah yang diam-diam memastikan ia tidak tersesat saat renungan malam, bahkan ketika menyamar menjadi "tuyul" untuk mengerjai junior.
Sejak itu, perasaan Aneska tumbuh perlahan dan diam-diam.
Arvian peduli dengan caranya sendiri. Ia tak pernah mengucap rindu, sulit meminta maaf, dan mempertahankan egonya. Tapi setiap kali Aneska membutuhkan, ia selalu hadir.
Dari SMA hingga usia 29 tahun, hubungan mereka tak pernah berubah status-hanya berubah jarak. Mereka pernah bertengkar, menjauh, lalu kembali lagi. Selalu sebagai sahabat.
Dan di situlah luka yang tak pernah selesai.
Aneska mencintai Arvian lebih dari satu decade mencintai ketulusannya, tanggung jawabnya pada keluarga, dan caranya memandang hidup dengan sederhana.
Kini, saat hidup menuntut kepastian, Aneska mulai lelah menunggu sesuatu yang tak pernah diperjuangkan.
Di depan jendela, dengan kopi americano yang mendingin, ia akhirnya bertanya
Haruskah ia tetap bertahan... atau pergi?
Tuan, apakah aku harus pergi?
All Rights Reserved