Tujuh Sayap Patah
Gempa selalu berusaha menjadi rumah bagi keluarganya.
Sejak orang tua mereka pergi, ia mengambil peran sebagai kakak, penjaga, sekaligus tempat pulang bagi dua kakak dan empat adiknya. Ia memasak, membersihkan rumah, memastikan semua baik-baik saja-seolah kalau ia lengah sedikit saja, semuanya akan runtuh.
Lalu kebakaran kecil itu terjadi.
Tidak ada yang terluka parah. Tapi bagi Gempa, itu cukup untuk menghancurkan sesuatu di dalam dirinya.
Ia mulai percaya bahwa dirinya gagal. Lagi.
Dan saat rasa bersalah itu belum sempat sembuh, surat-surat misterius mulai berdatangan.
"Kamu yang salah dulu."
"Kamu akan gagal lagi."
Kalimat-kalimat itu mengoyak luka lama yang selama ini ia sembunyikan sendirian.
Ancaman nyata pun datang.
Seorang paman yang penuh kebencian mencoba menghancurkan rumah mereka. Namun ternyata, luka paling tajam bukan berasal dari ancaman atau pisau-
melainkan keyakinan Gempa sendiri bahwa ia tidak layak dicintai.
Bahwa sekeras apa pun ia mencoba menjaga keluarganya, pada akhirnya ia tetap akan mengecewakan mereka.
Dan saat Gempa hampir menyerah...
adik-adiknya memeluknya erat.
Mereka menangis bersama, tertawa bersama, lalu berkata dengan suara yang membuat hatinya retak sekaligus sembuh:
"Kami nggak butuh kakak yang sempurna."
"Kami cuma butuh kamu... apa adanya."
Di tengah puing-puing rasa bersalah dan trauma yang belum sepenuhnya hilang, tujuh saudara itu perlahan belajar membangun kembali rumah mereka.
Bukan dengan dinding yang kuat.
Tetapi dengan kasih sayang kecil yang sederhana-
sepiring kari ayam hangat,
suara gitar di malam hujan,
meme aneh kiriman Solar,
tanaman lavender Thornie yang tumbuh lagi,
dan pelukan-pelukan diam yang berkata, "kamu nggak sendirian."
Karena pada akhirnya, mereka belajar satu hal:
Patah itu wajar.
Yang penting... jangan patah sendirian.