Di tengah aroma biji kopi yang terpanggang, Jay, seorang barista perfeksionis sekaligus pemilik Blue Hour Cafe, merasa dunianya kehilangan warna.
Meski cafenya sukses, Jay terjebak dalam rutinitas yang hambar-ia kehilangan kemampuan untuk menciptakan menu yang benar-benar "hidup".
Baginya, kopi bukan lagi seni, melainkan sekadar pesanan yang harus diselesaikan.
Segalanya berubah sejak Jake datang. Pemuda tenang itu selalu memesan meja di sudut yang sama, tenggelam dalam tumpukan buku sejarah dan literatur kuliner, namun hampir tak pernah menyentuh minumannya.
Bagi Jay, Jake adalah misteri sekaligus tantangan. Bagaimana bisa seseorang yang membaca tentang kelezatan dunia begitu abai terhadap rasa di depan matanya?
Dibantu oleh Ni-ki, barista mudanya yang bertugas sebagai "mata-mata" judul buku, Jay mulai melakukan eksperimen gila. Ia mulai meracik minuman yang merupakan manifestasi visual dan rasa dari bab-bab yang dibaca Jake.
Jika Jake membaca tentang revolusi, Jay menyajikan kopi dengan sentuhan rempah yang tajam; jika Jake membaca tentang romansa klasik, Jay menciptakan pastry manis dengan aroma mawar.
Dari balik mesin espresso, Jay memperhatikan setiap gerak-gerik Jake. Ia menunggu saat di mana Jake akhirnya akan melepaskan pandangannya dari kertas dan menyadari bahwa cerita yang ia baca telah berpindah ke dalam cangkirnya.
Sebuah perjalanan slow-burn tentang bagaimana rasa bisa menyampaikan pesan yang tidak sanggup diucapkan oleh kata-kata.
Todos los derechos reservados