THE TABOO! [The Destiny Left Behind]

THE TABOO! [The Destiny Left Behind]

  • WpView
    Reads 44
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 4 hours ago
Demi keselamatan kerajaannya, Gusti Raden Ayu Lia Nareswari terpaksa menerima lamaran politik dari penguasa bertangan besi, Sri Sultan Bhumi Prakoso. Namun, Lia mengajukan satu syarat mutlak. Dia harus membawa Dirgantara Adiwijaya, kepala ksatria pribadinya sekaligus pria yang sesungguhnya dia cintai, ke tanah asing tersebut. Sultan Bhumi yang terobsesi dengan jiwa pemberontak Lia sengaja mengabulkan syarat itu. Sebuah hukuman batin yang kejam pun dimulai. Malam demi malam, pintu kamar pengantin dikunci rapat. Dirga dipaksa berdiri tegap memegang tombak di luar pintu, sementara telinganya dihantam oleh suara rintihan pasrah Gusti Ayu-nya yang sedang melayani rajanya di dalam kamar. Saat raga terkurung dalam kuasa Sang Raja, sanggupkah cinta terlarang mereka bertahan di balik sumpah setia? Atau Apakah Akhirnya sang Permaisuri bisa mencintai Sang Raja? baku/non baku. don't copy. Catatan : Cerita yang Anda baca ini merupakan produk dari imajinasi dan kreativitas saya sendiri. Seluruh tokoh, dialog, dan rangkaian peristiwa di dalamnya adalah fiktif. Mohon dipahami bahwa cerita ini bertujuan untuk menghibur dan tidak ada hubungannya dengan kejadian di dunia nyata ya 😶‍🌫️
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines