New York mengajarkan Alea cara hidup tanpa batas.
Tentang malam yang lebih panjang dari penyesalan.
Tentang cinta yang datang tanpa janji.
Tentang Tuhan yang hanya ia kenal sebagai tradisi, bukan tempat pulang.
Ia tidak pernah merasa kosong.
Sampai ia kembali ke Bandung.
Di kota yang terasa terlalu penuh aturan, ia bertemu Arkana Zayyan Pradipta-lelaki yang tidak pernah menyentuhnya, tidak pernah membalas tatapannya terlalu lama, dan tidak pernah memberi harapan meski jelas ada rasa yang tumbuh di antara mereka.
Bukan karena ia tak menginginkannya.
Tapi karena bagi Zayyan, iman tidak bisa ditukar dengan perasaan.
Untuk pertama kalinya, Alea ditolak bukan karena ia kurang cantik.
Bukan karena ia kurang menarik.
Tapi karena ia tidak seiman.
Apa yang membuat seseorang begitu takut kehilangan Tuhannya?
Dan kenapa ia sendiri tak pernah takut kehilangan Tuhan?
Ketika kelulusan memisahkan mereka, Alea mengira semuanya selesai.
Ternyata tidak. Di tengah jarak dan kesepian, ia mulai mencari.
Bukan demi cinta.
Bukan demi Zayyan.
Tapi karena untuk pertama kalinya ia sadar-ia tidak pernah benar-benar mengenal Tuhannya sendiri.
Perjalanannya tidak mudah.
Ia kehilangan kenyamanan.
Ia kehilangan identitas lamanya.
Ia bahkan hampir kehilangan dirinya sendiri.
Namun di titik terendah itulah, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya: keyakinan.
Dan ketika akhirnya ia berdiri, mengucapkan dua kalimat yang mengubah seluruh hidupnya, ia tahu satu hal-
Ia tidak berpindah karena seorang lelaki.
Ia berpindah karena hatinya akhirnya menemukan arah.
Namun saat benteng perbedaan itu runtuh, waktu telah berubah.
Keputusan telah diambil.
Dan cinta mereka diuji sekali lagi oleh takdir yang nyaris merenggut segalanya.
Ini bukan kisah tentang perempuan yang jatuh cinta lalu berubah.
Ini kisah tentang perempuan yang kehilangan dunianya, mempertanyakan Tuhannya, dan menemukan dirinya... di ujung doa yang sama.
Todos los derechos reservados