Ada rumah yang dibangun dari darah.
Ada juga rumah yang dibangun dari pilihan untuk saling menjaga.
Jihan tidak pernah menyangka bahwa ia akan menemukan rumah keduanya.
Di antara masa lalu yang penuh luka dan hubungan keluarga yang pernah retak, hidup mempertemukannya dengan sebuah keluarga baru-Bunda yang selalu memeluknya tanpa banyak pertanyaan, Papah yang perlahan belajar menyayanginya seperti anak kandung sendiri, dan lima kakak yang terlalu ribut, terlalu posesif, tapi selalu ada ketika ia membutuhkannya.
Di rumah itu, Jihan belajar banyak hal.
Tentang bagaimana rasanya dipanggil "adek" setiap hari.
Tentang makan malam yang selalu penuh suara.
Tentang kakak-kakak yang mengganggu, tapi diam-diam menjaga dari jauh.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hidup terasa... hangat.
Namun di balik tawa yang ia bagi bersama mereka, Jihan menyimpan sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Sebuah rahasia yang perlahan menggerogoti tubuhnya.
Sebuah kenyataan bahwa waktu mungkin tidak sepanjang yang orang-orang di sekitarnya bayangkan.
Jihan tidak ingin rumah barunya hancur oleh kebenaran itu.
Karena bagi Jihan, kebahagiaan sederhana-pulang ke rumah, bercanda dengan kakak-kakaknya, dan dipeluk oleh Bunda-adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk dirusak oleh ketakutan.
Jadi ia memilih diam.
Memilih tetap tersenyum.
Memilih menjalani hari-hari seperti remaja biasa... selama ia masih punya waktu.
Tanpa ia sadari, setiap tawa yang ia simpan bersama keluarga itu justru membuat mereka semakin tidak siap ketika kenyataan akhirnya datang mengetuk.
Karena terkadang, mencintai seseorang berarti harus belajar menghadapi satu hal yang paling menakutkan-
kehilangan.
All Rights Reserved