Sebuah kisah slice of life tentang remaja laki-laki di kota kecil yang hidup dalam posisi "abu-abu" tidak menonjol, tidak tertinggal, tapi selalu merasa kurang.
Di balik jaket abu-abunya, ia terus menekan dirinya sendiri dalam hampir segala hal nilai yang harus lebih baik, penampilan yang harus lebih layak, sikap yang harus lebih kuat, mimpi yang tidak boleh terlalu tinggi. Tidak ada yang benar-benar memaksanya, namun pikirannya sendiri tak pernah berhenti menuntut.
Ia tumbuh dengan kebiasaan membandingkan, meragukan, dan menyalahkan diri. Setiap kesempatan yang terlewat menjadi penyesalan, setiap keinginan selalu diikuti rasa bersalah. Ia ingin menjadi cukup, tapi tak pernah tahu ukuran "cukup" itu di mana.
Ini bukan cerita tentang kejadian besar, melainkan tentang tekanan yang pelan, konstan, dan diam-diam mengikis tentang seorang remaja yang berusaha bertahan dari dirinya sendiri.
"Stop ikutin aku!!"
Langkah yang semula pelan menjadi tergesa saat Hera melihat Laki-laki di belakangnya yang terus mengikutinya.
"No, Love. I want to make sure you're okay"
"Kita udah putus Je! jangan ganggu aku!"
"I never agreed to it"
Dia Helera Varadisa gadis pintar yang banyak di kenal di sekolahnya dengan ciri khasnya pita biru yang selalu tampil cantik di rambutnya.
Kehidupannya yang awalnya hanya seputar belajar, membaca, dan menulis berubah lebih menyenangkan kala ia bertemu dengan Jerald Van Derico.
Laki-laki yang kehidupannya bertolak belakang dengan Helera, Jerald bukan anak yang terkenal karena kepintarannya ia justru dikenal karena sering membuat keributan dengan teman-temannya.
Meski begitu Hera senang menjalin hubungan dengan Jerald, meski harus dengan keadaan backstreet.
Awalnya semula Hera yakin kisah masa abu-abu nya memang lebih manis setelah mengenal Jerald, sebelum sesuatu terjadi menghancurkan keyakinan Hera.
"Je kamu beneran belum punya pacar kan?"
Jerald yang di beri pertanyaan itu dengan tegas menggeleng sebagai jawaban.
Setelah melihat dengan jelas interaksi Jerald dengan gadis itu Hera menggelengkan kepalanya pelan.
Hera segera pergi dari tempat itu, ia tak ingin membiarkan hatinya lebih lama lagi merasa sakit.