Dalam rumah yang tak ramah

Dalam rumah yang tak ramah

  • WpView
    Lecturas 296
  • WpVote
    Votos 160
  • WpPart
    Partes 4
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, ago 18, 2026
WpInfo
Ficción
Temas Sociales
Vida Familiar
Abuso y Trauma
Duelo y Pérdida
[DILARANG COPY ATAU PLAGIAT!!] "Evan, kamu itu harus kuat, bisa melindungi, menjaga, dan memberi contoh yang baik pada adik-adik mu. Kamu tidak boleh lemah. Kamu harus jadi anak yang pintar, harus rangking satu dan juara di sekolah. Kamu harus serba bisa. Kamu itu laki-laki, anak pertama, Evan!" Ucap Arjuna Mahardika pada putra sulungnya. Ucapan sang Ayah begitu membekas dalam ingatan Kaevandra Argian Mahardika. ── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ── Kaevandra Argian Mahardika, yang sering dipanggil Evan atau Vandra, tumbuh dengan beban harapan yang tak terukur di pundaknya. Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang yang hangat dari kedua orang tuanya-apapun yang ia lakukan selalu dianggap kurang, selalu ada standar yang lebih tinggi yang harus dicapai. Ketika adik-adiknya menangis atau melakukan kesalahan, tanggung jawabnya selalu jatuh pada Kaevandra sebagai kakak sulung yang "harus bisa menjaga semuanya". Di rumah, tidak ada keadilan yang ia rasakan: saat ia merasa lelah dan ingin berbagi beban, ia selalu disuruh untuk "menjadi lebih kuat" dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Hingga remaja, Kaevandra terus menjalani hidup dengan menggenggam perintah ayahnya. Ia menjaga adik-adiknya dengan sepenuh hati, menjadi tempat berlindung bagi mereka setiap kali ada masalah. Namun di dalam dirinya, ada kerinduan yang mendalam-kerinduan untuk memiliki sebuah rumah yang benar-benar bisa melindungi dan menjaganya, sebuah tempat di mana ia tidak perlu selalu kuat, di mana ia bisa menunjukkan kelemahannya tanpa takut dikritik, dan di mana kasih sayang serta keadilan bukanlah hal yang langka. Banyak pertanyaan pada diri Kaevandra, mengapa Ayahnya begitu keras mendidiknya untuk menjadi kuat? Dan Bundanya juga tak kalah keras mendidik dirinya. Apa karena dirinya anak pertama menjadi sebab dirinya dididik untuk menjadi kuat? Atau kedua orangtuanya mendidik dirinya begitu keras karena keduanya memiliki alasan lain?
Todos los derechos reservados
#308
plottwist
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Wismatama
  • Sastru Pinanganten
  • Jadi Anak Haram?
  • ELION
  • Luk Telu Belas
  • Ritual Rasa
  • ONESHOOT [BP]
  • Lysander Lowell De Villiers
  • "Liburan" Bonus Suami
  • na ja [END]

"Saya tidak pernah mau menikah dengan kamu, tapi karena paksaan saya menerimanya." ••••• Di usianya yang menjelang 30 tahun, Wismatama Pradana Kusuma dikenal sebagai perwira TNI AD yang dingin. Ketegasannya di sana membuat junior gemetar, kedisiplinannya mutlak, dan sorot matanya yang tajam seolah mampu menguliti siapa saja hidup-hidup. Namun, benteng pertahanan itu seketika diuji oleh kehadiran Mahesa Narendra-pemuda yang setiap tingkahnya selalu membuat Wisma ingin melemparnya langsung ke barak militer. Baru menginjak usia 23 tahun, Mahesa adalah produk dari kasih sayang orang tua yang berlebihan. Ia gampang merajuk, rapuh, dan teramat manja. Sifat ketergantungan Mahesa inilah yang memicu naluri Wisma untuk mendisiplinkannya dengan tangan besi. Takdir ironis menyatukan mereka lewat perjodohan paksa demi mempertahankan keutuhan hubungan dua keluarga. Di tengah badai ego, Wisma bersumpah tidak akan pernah menaruh rasa pada pemuda manja itu. Di sisi lain, Mahesa tak tinggal diam dan siap membalas setiap sikap kaku sang tentara tanpa berpikir dua kali. Akankah disiplin militer meluluhkan hati yang manja, atau justru kehangatan Mahesa yang meruntuhkan keangkuhan sang perwira? #Boyslove #Mpreg

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido