Diplomasi Perasaan di Ruang Bimbingan
Jade Naraya Pramudita, mahasiswi tingkat akhir yang hanya ingin lulus tepat waktu tanpa drama, justru dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih rumit saat berada di bawah bimbingan Theodore Rahardja, seorang akademisi yang tenang, presisi, dan nyaris tanpa kompromi dalam standar kesempurnaannya.
Bersama Theodore, setiap sesi bimbingan tidak pernah sekadar menjadi diskusi ilmiah biasa, melainkan berubah menjadi proses evaluasi menyeluruh yang menguji bukan hanya isi skripsi Jade, tetapi juga cara berpikir, ketelitian, dan ketahanannya menghadapi tekanan. Revisi demi revisi, dengan coretan merah yang tak pernah sedikit, perlahan membentuk dinamika hubungan yang terasa kaku namun intens.
Pada awalnya, hubungan mereka berjalan profesional dan terjaga, dipenuhi istilah metodologi serta batas yang jelas. Namun tanpa disadari, sesuatu mulai bergeser. Waktu bimbingan menjadi lebih lama dari seharusnya, percakapan berkembang melampaui urusan akademik, dan tatapan yang awalnya netral mulai menyimpan makna yang sulit diabaikan. Bahkan keheningan di antara mereka pun terasa berbeda-tidak lagi sekadar jeda, melainkan ruang yang sarat arti.
Jade berusaha menyangkal semuanya. Ia memaksakan diri untuk tetap rasional dan menjaga profesionalitas, meyakini bahwa perasaan yang muncul hanyalah dampak dari tekanan akademik. Namun semakin dihindari, perasaan itu justru tumbuh semakin nyata, seperti skripsi yang tak kunjung selesai ketika terus ditunda.
Tanpa pernah benar-benar direncanakan, Jade akhirnya terjerat dalam sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada penelitiannya sendiri. Ia jatuh hati-pada sosok yang seharusnya hanya menjadi pembimbing akademiknya. Sebuah perasaan yang melampaui batas logika, menembus aturan, dan tidak pernah diajarkan dalam metodologi mana pun.
START: 210226