Fachri masuk penjara sebagai tersangka. Ia keluar dari ruang sidang sebagai vonis. Namun yang benar-benar mati bukan kebebasannya- melainkan kepercayaannya. Di Lapas Wiraloka, ia belajar sesuatu yang tidak diajarkan di bangku hukum: Bahwa sistem tidak selalu runtuh oleh kekerasan. Kadang ia hanya perlu diarahkan. Cinta meninggalkannya. Rekan kerja mengkhianatinya. Hukum mempermainkannya. Tiga ledakan itu tidak membuatnya hancur. Mereka membentuknya. Ia tidak berteriak. Ia tidak membalas dengan pukulan. Ia tidak mencari darah. Ia memilih diam. Mengamati. Menghitung. Sedikit demi sedikit, orang-orang berpengaruh mulai bergantung padanya. Kepala lapas. Kepala suku blok. Bandar narkoba. Tanpa menggulingkan siapa pun, tanpa menyentuh satu pun senjata, Fachri menjadi pusat gravitasi kekuasaan. Ia bukan lagi korban sistem. Ia menjadi sistem itu sendiri. Ini bukan kisah tentang balas dendam yang brutal. Ini kisah tentang kelahiran seorang monster intelektual- yang membunuh dengan strategi, dan menaklukkan tanpa terlihat. Dan mungkin... villain sesungguhnya bukanlah dia.
More details