I Lost You

I Lost You

  • WpView
    Membaca 1
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadLengkap Jum, Mar 6, 2026
Ivia menikah untuk melarikan diri. Selama dua tahun terakhir, hidupnya terasa seperti diawasi-oleh seorang pria posesif yang selalu muncul di tempat yang sama, dengan tatapan yang terlalu lama dan senyum yang terlalu yakin. Ketika ancaman itu mulai terasa nyata, ia memilih jalan tercepat untuk aman: menikah dengan pria yang tampak sempurna, yang mampu melindunginya tanpa peduli akan cinta. Suaminya tenang. Sopan. Terhormat. Pria yang tak pernah meninggikan suara. Tak pernah menyentuh tanpa izin. Tak pernah melarangnya pergi. Namun di balik pintu rumah mereka, ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya selalu terlalu dalam. Perhatiannya terlalu detail. Cara ia memanggil Ivia dengan sebutan "istriku" terdengar lebih seperti kepemilikan daripada cinta. Ia tidak pernah menyakiti atau bahkan berkata kasar. Tapi setiap bisikan, setiap sentuhan singkat di pinggang, setiap langkah yang terlalu dekat membuat Ivia sadar-ia tidak hanya dicintai namun Ia sepenuhnya dimiliki. Ketika Ivia mulai menemukan hal-hal kecil yang tak masuk akal-foto lamanya yang seharusnya tak pernah dimiliki siapa pun, pengetahuan tentang rahasia masa lalunya, dan reaksi suaminya yang terlalu tenang saat pria posesif itu kembali muncul-ia mulai bertanya: Apakah Ivia benar-benar diselamatkan? Atau sejak awal... Ivia hanya berpindah dari satu obsesi ke obsesi yang lebih cerdas? Karena cinta bisa terasa hangat. Obsesi terasa aman. Namun terkadang, perbedaan di antara keduanya sangat tipis. Entah Ivia terlambat menyadari, atau ia memang sengaja menjatuhkan dirinya kepada sosok lain yang juga terobsesi pada dirinya. Di dunia di mana kendali dibungkus kelembutan dan kepemilikan terdengar seperti janji, ia harus memutuskan-Melarikan diri lagi... atau menerima bahwa sejak ia mengucap janji di depan altar bahwa dirinya sudah menjadi milik pria sepenuhnya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#39
tragic
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • The Villain Mother
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • My Celestia [ON GOING]
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • Be My Wife
  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello, KKN!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • The Last Yes!

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan