Keheningan adalah suara yang paling menyakitkan bagi mereka yang kehilangan. Di rumah pribadi yang luas ini, suara detak jam dinding kini terdengar seperti dentuman gada yang menghantam ulu hati. Delapan bulan telah berlalu sejak malam di mana pintu depan tak lagi terbuka oleh kunci yang diputar tangan kokoh itu. Delapan bulan sejak aroma parfum maskulin yang menenangkan itu mulai kalah oleh bau debu dan kesendirian.
Aku, Styfano Senja Brawijaya, kini berdiri di depan jendela besar ruang kerja Ayah. Langit di luar sana berwarna jingga kemerahan, warna yang sama dengan namaku, namun bagiku, senja kali ini terasa sangat dingin. Aku menatap meja jati besar tempat Ayah biasanya duduk dengan kacamata bertengger di hidungnya, mengurus urusan negara sembari sesekali memberikan senyum tulus yang hanya ia tujukan untukku.
Dulu, aku adalah anak yang gemar berpura-pura sakit hanya agar bisa tidur di bawah dekapan lengannya yang hangat. Aku adalah remaja yang mencari validasi dalam setiap usapan di kepalaku. Namun, hilangnya Ayah telah membunuh Senja yang lama. Dalam delapan bulan, aku belajar bahwa dunia tidak memberikan belas kasihan pada mereka yang lemah. Aku tumbuh menjadi dingin, menutup diri, dan mengganti air mata dengan tekad yang membeku.
Setiap malam, aku merogoh kolong bantal di kamar Ayah, menyentuh bingkai foto masa kecilku yang ia tinggalkan. Foto itu adalah satu-satunya saksi bahwa aku pernah dicintai sedalam samudra oleh seorang pria yang dipuja sekaligus ditakuti oleh negeri ini.
"Ayah tidak hilang," bisikku pada bayangan di jendela. "Ayah hanya sedang menungguku untuk menemukannya."
All Rights Reserved