Bagi Atma, pertemanan bukan soal berbagi tawa, melainkan soal berapa harga yang harus ia bayar agar tidak "dikuliti". Setelah masa SD-nya habis untuk menjadi mesin ATM dan budak tugas bagi teman-temannya, Atma tiba di SMP dengan satu misi: menjadi tidak ada secara sosial. Walau ia cerdas secara logika, namun ia sebenarnya hancur secara sosial, dengan berdiri sendirian di antara tumpukan harta orang tuanya dan kerumunan teman palsu yang tak mampu memberi rasa aman.
Namun, takdir justru mendudukkannya di samping Beno, pemuda sinis dengan luka tersembunyi yang ia bungkus rapat di balik bukunya. Di saat Atma mulai berani menaruh sedikit kepercayaan pada orang-orang disekitarnya yang tidak mengincarnya, hantu masa lalu justru lahir kembali. Pola yang sama, rasa sakit yang sama, dan pengkhianatan yang kini terasa lebih tajam.
Apakah Atma akan terus membiarkan orang lain menuliskan penderitaan di lembar hidupnya? Ataukah ia akan mulai memegang pena untuk menuliskan "dirinya" sendiri, meski bab pertamanya dibuka dengan luka lama yang kembali segar?
Creative Commons (CC) Attribution