Hujan malam itu turun perlahan, seolah langit ikut berduka atas sesuatu yang tak bisa lagi dikembalikan.
Di sebuah rumah sederhana di desa kecil, seorang anak laki-laki bernama Jonatan belajar terlalu cepat tentang arti kehilangan. Tentang bagaimana dunia yang dulu terasa hangat... tiba-tiba menjadi sunyi.
Sejak hari ibunya pergi untuk selamanya, rumah itu tidak pernah benar-benar sama. Tawa yang dulu memenuhi dapur saat ibu memasak... kini hanya tinggal kenangan. Suara yang dulu memanggil mereka makan malam... kini hanya hidup dalam ingatan.
Ia bukan hanya kehilangan seorang ibu.
Ia kehilangan tempat pulang.
Di pundaknya yang masih kecil, perlahan jatuh sebuah warisan yang tak pernah ia minta-
tanggung jawab untuk menjaga adiknya, menahan tangis ayahnya, dan berdiri tegak di tengah dunia yang terasa runtuh.
Namun luka tidak hanya datang dari kehilangan.
Kadang, luka juga datang dari kata-kata orang terdekat...
dari tuduhan yang tak pernah ia pahami...
dari dunia yang seolah menyalahkan mereka atas kepergian seorang ibu.
Di antara tangisan, penyesalan, dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi,
Jonatan harus belajar satu hal yang paling sulit dalam hidupnya-
tetap berjalan... meski hatinya tertinggal di masa lalu.
Dan bagi Jonatan...
itu adalah luka yang akan ia bawa seumur hidupnya.
All Rights Reserved