Dean Arsenio adalah definisi dari ketelitian yang menyebalkan. Sebagai mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Brawijaya, ia hidup di antara diktat tebal dan ruang diseksi yang steril. Dean tidak punya waktu untuk basa-basi sosial, apalagi untuk perasaan. Ia dingin, strategis, dan memiliki mulut setajam pisau bedah yang siap "mengoperasi" mental siapa pun yang mengganggu efisiensinya.
Di sisi lain, Nara Elvina adalah matahari di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tepatnya di jurusan Hubungan Internasional. Ceria, mahir berdiplomasi, dan selalu punya cara untuk mencairkan suasana paling kaku sekalipun. Namun baginya, jatuh cinta adalah bentuk kekalahan logika. Ia menganggap hubungan asmara seperti perjanjian bilateral, jika tidak menguntungkan dan terlalu berisiko, lebih baik tidak pernah ditandatangani.
Semesta mempertemukan kedua energi yang bertentangan tersebut dalam sebuah proyek kolaborasi pengabdian masyarakat dari kampus mereka. Pertemuan pertama langsung menjadi medan perang. Dean menganggap keceriaan Nara sebagai distraksi yang tidak efisien, sementara Nara melihat Dean sebagai subjek negosiasi tersulit yang pernah ia temui.
"Jangan terlalu percaya diri, Nara.
Senyummu itu tidak punya nilai medis
untuk menyembuhkan apa pun, apalagi
mengubah cara kerja otakku." - Dean Arsenio
"Mungkin senyumku tidak punya nilai medis,
Dean. Tapi setidaknya aku tahu cara menjadi
manusia tanpa harus membaca manual dari
buku anatomi." - Nara Elvina
Ketika Dean mulai "mendiagnosis" ada yang aneh pada detak jantungnya setiap kali berdebat dengan Nara, Nara justru mulai kehilangan "kedaulatan" atas hatinya. Sebuah dilema muncul: Dean harus belajar bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan medis, sementara Nara harus memilih antara mundur demi prinsipnya, atau maju menjalani diplomasi paling berisiko, yaitu mencintai Dean Arsenio.
All Rights Reserved