Yo Dream! (Dan Janji-Janji Kecil Lainnya)
Bagi orang lain, angka tujuh mungkin cuma angka biasa. Tapi bagi Mark, Renjun, Jeno, Haechan, Jaemin, Chenle, dan Jisung, tujuh adalah rumah yang atapnya sering mau rubuh gara-gara suara melengking Chenle atau ulah jahil Haechan.
Rumah mereka nggak pernah tenang. Selalu ada saja dramanya; entah itu kaus kaki yang hilang sebelah, rebutan remote TV, sampai debat serius soal apakah sereal harus diaduk atau tidak. Mark sebagai yang paling tua sering elus dada, sementara Jisung si bungsu cuma bisa pasrah melihat tingkah keenam abangnya yang ajaib.
Namun, di balik semua kericuhan itu, ada janji-janji kecil yang mereka ikat erat di sela jemari.
Janji untuk selalu membalas pesan di grup WhatsApp se-absurd apa pun isinya.
Janji untuk tidak membiarkan salah satu dari mereka makan sendirian.
Janji untuk saling menjemput saat hujan turun.
Dan janji bahwa apa pun yang terjadi di luar sana-saat dunia terasa jahat dan melelahkan-mereka akan selalu punya tempat untuk pulang.
Sebab bagi mereka, "Yo Dream!" bukan sekadar yel-yel penyemangat, melainkan sumpah bahwa mereka akan terus bersama, menjaga mimpi satu sama lain tetap hidup.
Ini bukan cuma cerita tentang persaudaraan. Ini tentang tujuh laki-laki yang belajar bahwa cinta tidak harus selalu bilang "sayang", tapi bisa lewat piring yang sudah dicuci atau kulit jeruk di dalam sepatu.
27-03-2026, #1 chenle