Di sekolah: Dia adalah Devan Alister Adithya. Putra bungsu keluarga konglomerat Adithya yang tampan, cerdas, berkuasa, dan berdarah dingin. Berada di kelas 11 IPA 1, Devan dikenal sebagai Ice Prince yang tak tersentuh. Tatapannya membekukan, bicaranya singkat seirit kata, dan tak ada satu pun siswa-terutama perempuan-yang berani melintasi garis batas kehidupannya. βMengancam atau mengganggu ketenangannya? Sama saja dengan memancing murka ketujuh kakaknya yang siap meratakan reputasi siapa saja dalam sekejap. βDi rumah: Lupakan aura dingin pangeran es! Bagi Papa, Mama, Mbak Valerie, dan keenam abangnya yang overprotective tingkat dewa, Devan hanyalah si pangeran cilik kesayangan. Anak bungsu manja yang suka rebahan, hobi bawa tas serut isi permen dinosaurus dan macaron, paling takut dikagetin singa pas piknik keluarga, dan bakal cemberut menggemaskan kalau digodain habis-habisan di meja makan! βKehidupan sekolah Devan yang damai dan monoton mendadak bergetar saat kedatangan Aurelia Clarissa-murid pindahan dari Singapura yang cantik, manis, dan ramah. βTanpa diduga, guru menempatkan Aurel di bangku sebelah Devan-bangku "kramat" yang bertahun-tahun kosong karena tak ada yang berani mendudukinya. βKetika seluruh sekolah mengira Aurel akan membeku oleh sikap dingin Devan, yang terjadi justru sebaliknya. Dari berbagi jawaban rumus Fisika, tukeran macaron buatan rumah, sampai aksi gertakan dingin Devan saat membela Aurel dari geng senior... kulkas dua pintu itu perlahan mulai mencair! βAkankah sang Pangeran Es benar-benar menemukan kehangatan barunya? Atau justru ketujuh abangnya yang protektif akan makin heboh menginterogasi si pangeran cilik yang mendadak mulai bisa dekat dengan cewek? β"Devan boleh bersikap sedingin es pada dunia, tapi di mata keluarganya... dia tetaplah si bayi cilik yang harus dilindungi sampai kapan pun!"
Detail lengkap