Forced Oath ; Markhyuck ( GS ) [ END ]

Forced Oath ; Markhyuck ( GS ) [ END ]

  • WpView
    Reads 22,036
  • WpVote
    Votes 1,669
  • WpPart
    Parts 73
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 14, 2026
"Satu tubuh untuk sepuluh ribu nyawa. Satu putri untuk satu perdamaian yang dipaksakan." Haechan Lee adalah matahari Swarnapura yang ditumbalkan. Mark Jung adalah Sang Jagal dari Lohagarh yang tidak mengenal belas kasihan. Di atas Altar Api, sebuah pakta politik mengikat mereka dalam pernikahan yang berlumur kebencian. Haechan bersumpah tidak akan tunduk, sementara Mark bersumpah akan mematahkan sayapnya hingga tak bersisa. Di antara dinginnya benteng besi dan panasnya api dendam, siapa yang akan hancur lebih dulu? "Kau boleh memiliki ragaku, Mark Jung. Tapi jangan pernah bermimpi menyentuh jiwaku."
All Rights Reserved
#14
politicalfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines