Bagi Mama, rumah tua beratap kusam itu adalah napasnya. Di sana, setiap retakan dinding menyimpan tawa anak-anaknya dan setiap sudut ruangan merekam jejak kenangan yang tak ingin ia lupakan. Namun, bagi anak-anaknya Satria yang baru pulang dari perantauan dengan tangan hampa, Sari yang merasa paling banyak berkorban, dan Dika yang hanya melihat rumah sebagai aset yang bisa diuangkan bangunan itu kini menjadi beban sekaligus pemicu luka lama.
Satria pulang bukan untuk beristirahat, melainkan untuk mendapati kenyataan pahit: rumah masa kecil mereka terancam disita, sementara ingatan Mama perlahan mulai memudar dimakan usia. Di tengah impitan ekonomi dan ego yang terluka, Satria mencoba menepati janji masa kecilnya memberikan "rumah impian" dengan kebun mawar yang selalu Mama dambakan.
Namun, membangun kembali fondasi yang runtuh tidaklah mudah ketika saudara-saudaranya justru terjebak dalam pertikaian warisan dan gengsi. Di saat Mama hanya ingin menghabiskan sisa usianya dengan tenang, ia harus menyaksikan anak-anak yang ia besarkan dengan cinta kini saling hitung-hitungan soal pengabdian.
Berapa harga yang harus dibayar untuk sebuah kata 'pulang'?
Ini adalah kisah tentang bakti yang diuji oleh materi, ambisi yang berbenturan dengan realita, dan sebuah perjalanan menyembuhkan luka di antara mereka. Karena pada akhirnya, apakah rumah yang layak bagi Mama adalah bangunan mewah yang megah, ataukah sekadar kehadiran anak-anaknya yang tak lagi pergi?
All Rights Reserved