Impian Fana (Cerpen)

Impian Fana (Cerpen)

  • WpView
    Reads 1,070
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Mon, Mar 30, 2026
Fana tidak pernah bermimpi besar. Hidupnya sederhana-cukup untuk dijalani, tidak untuk dikejar. Sampai suatu hari, seorang perempuan bernama Nadya datang, duduk di kursi plastik di teras kosnya, dan perlahan mengisi ruang-ruang sunyi yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Bagi Nadya, Fana adalah tempat pulang. Bagi Fana, Nadya adalah mimpi yang terlalu tinggi untuk dimiliki. Dua tahun berlalu dalam percakapan-percakapan kecil, tawa yang sederhana, dan perasaan yang tidak pernah diucapkan. Sampai suatu hari, Nadya pergi. Dan Fana tetap tinggal-bersama perasaan yang ia pilih untuk disimpan. Namun hidup, seperti hujan yang tidak pernah benar-benar bisa ditebak, selalu punya caranya sendiri untuk mempertemukan kembali dua orang yang pernah saling menemukan. Di sebuah taman di Taiwan, di bawah kelopak sakura yang jatuh perlahan, Fana akhirnya dihadapkan pada satu pertanyaan yang selama ini ia hindari: Apakah semua mimpi memang harus tetap menjadi mimpi? Atau hanya menunggu seseorang cukup berani untuk mengucapkannya?
All Rights Reserved
#105
mulia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LOSING YOU (COMPLETED)
  • GRIZLEN {On Going}
  • Unfinished Business
  • AKALA ; My heart beats for Miss
  • Berbahagialah Dengan Rumah Barumu
  • Never Over [Completed]
  • Dreaming after a broken heart
  • Bintang Jatuh
  • "Alea... Izinkan Aku Memilikimu Sekali Lagi"
  • SHORT STORY

Setiap malam, setiap hari, selama bertahun-tahun lamanya Marcel terus dihantui mimpi akan kejadian itu. Kejadian dimana dirinya kehilangan perempuan yang selama ini dia sia-siakan. Membuatnya terus tenggelam dalam perasaan bersalah. Namanya Laura. Masih teringat dengan jelas tatapan terakhir Laura untuknya. Yang saat itu menyiratkan rasa sakit dan kekecewaan, melihat Marcel yang berdiri tepat di depannya, juga ikut tersenyum mengejek. Laura berlari sambil menahan air mata, berjanji untuk tidak akan muncul dihadapan laki laki itu lagi dan dihadapan semuanya. Yang pada akhirnya menyisakan rongga penyesalan yang menganga sangat besar bagi Marcel. Dia akan melakukan apa saja, agar perempuan itu menjadi miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines