Joss's Expensive Problem (JossGawin) END

Joss's Expensive Problem (JossGawin) END

  • WpView
    Reads 16,851
  • WpVote
    Votes 1,275
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadComplete Mon, Mar 16, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Hidup Gawin William yang penuh pesta, mobil mewah, dan kebebasan tanpa batas mendadak runtuh saat kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat demi urusan bisnis. Alih-alih membiarkan putra tunggal mereka menghancurkan harta keluarga di Bangkok, mereka membuat keputusan paling ekstrem: menitipkan Gawin di bawah pengawasan penuh Joss Josean. Apa jadinya jika seorang Joss Josean-CEO dingin, kaku, dan punya kendali penuh atas ekonomi Bangkok-harus menghadapi satu-satunya variabel yang tidak bisa ia hitung dalam grafik sahamnya? Variabel itu bernama Gawin William. Gawin adalah definisi dari "masalah". Ia bisa menghabiskan limit kartu kredit dalam satu malam, pura pura diculik hanya karena telat dijemput sepuluh menit, bahkan nekat jadi model lukis diam-diam demi uang jajan tambahan setelah asetnya disita. Namun, kesabaran sang Singa ada batasnya. Gara-gara pesta gila senilai jutaan Baht, Joss memutuskan untuk menarik semua kemewahan Gawin.Gawin pun harus memutar otak. Mulai dari akting "anak tobat" yang mengharukan, hingga melancarkan jurus puppy eyes andalannya yang biasanya membuat pertahanan Joss runtuh dalam hitungan detik. Di tengah perang urat syaraf antara "disiplin baja" dan "kenakalan tingkat tinggi", muncul bayang-bayang masa lalu yang mencoba mengusik. Siapa sangka, si bocah bandel yang biasanya hanya bisa menguras dompet, justru menjadi orang pertama yang maju paling depan dengan taring tajam saat milik kesayangannya diganggu? Ikuti kisah komedi romantis yang penuh drama, tawa, dan sedikit banting pintu. Bisakah Joss benar-benar menjinakkan Gawin? Atau justru sang CEO sendiri yang akhirnya bertekuk lutut di bawah kendali si tuan muda yang nakal ini? "Phi Joss, aku sudah tobat! Tapi... boleh tidak kalau motor barunya warna emas?" "Gawin, satu kata lagi dan kau pulang naik bus umum."
All Rights Reserved
#169
gawincaskey
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • Kembang Desa
  • Salah Status [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines