Taste the Sin

Taste the Sin

  • WpView
    Reads 5,349
  • WpVote
    Votes 380
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 25, 2026
Leandro San Diego hanyalah seorang bodyguard, sebelum pengkhianatannya terbongkar. *** Tidak ada yang menyangka bahwa Leandro San Diego- sang tangan kanan Cattaneo yang paling patuh- adalah penjahat sesungguhnya. San Diego berkhianat pada keluarga yang sudah membesarkannya, juga pada perusahaan dan orang-orang yang ia pimpin. Tapi San Diego tidak bisa mengkhianati Celeste Waverly Cattaneo- nona-nya- putri ketiga Cattaneo yang merepotkan, menyebalkan, tapi selalu ingin ia lindungi bahkan dengan sisa napas terakhir yang dia miliki. Jadi sebelum pengkhianatannya terungkap, San Diego harus menemukan satu orang yang akan menggantikan posisinya untuk menjaga dan melakukan segalanya untuk Celeste. Sayangnya, Celeste tidak pernah mempercayakan dirinya sendiri kepada orang selain San Diego. Meskipun dia tahu bahwa San Diego mungkin akan meninggalkannya, demi menyelamatkan hidupnya sendiri. *** "Aku hanyalah seorang pendosa, Principessa." -Leandro San Diego- "Tapi pendosa ini adalah satu-satunya manusia yang tetap memberikan punggungnya sebagai perisai, demi melindungi perempuan yang harusnya dia musnahkan." -Celeste Waverly Cattaneo- Note: Update setiap Rabu dan Minggu
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines