Story cover for Alone With Everything by gheeaa
Alone With Everything
  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Mar 08
Ada orang yang bilang, sendiri itu menyenangkan.
Tenang. Hening. Tidak ada yang mengganggu.

Aku juga pernah mempercayai itu.

Sampai suatu hari aku sadar...
sendiri memang terasa damai,
tetapi melakukan semuanya seorang diri tidak pernah benar-benar mudah.

Ada malam-malam panjang ketika pikiran menjadi terlalu ramai.
Ada hari-hari ketika dunia terasa terlalu berat untuk dipikul oleh satu hati saja.

Dan di sebuah ruangan sunyi, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun:

Sendiri itu mudah.
Namun hidup, bertahan, dan memeluk semua luka seorang diri... tidak sesederhana kelihatannya.

*Alone With Everything* adalah kisah tentang kesunyian, tentang percakapan panjang dengan diri sendiri, dan tentang bagaimana seseorang belajar berdamai dengan semua yang hidup di dalam kepalanya.

Karena terkadang, yang paling melelahkan bukanlah dunia, melainkan menjadi satu-satunya orang yang harus selalu kuat untuk diri sendiri.
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add Alone With Everything to your library and receive updates
or
#1tumbuh
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Pikul Pilu Pada Pulangmu cover
Leonids cover
Rembulan Yang Sirna cover
အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete) cover
Puisi ku untuk mu cover
OBSERVE [GeminiFourth]✔️ cover
My SIN (GXG iam Lesbian)  cover
kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2) cover
Fragmen Sunyi: Kepingan luka yang belajar untuk reda. cover
Pesan Sunyi cover

Pikul Pilu Pada Pulangmu

50 parts Ongoing

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026