Alone With Everything

Alone With Everything

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 8, 2026
WpInfo
Poetry
Ada orang yang bilang, sendiri itu menyenangkan. Tenang. Hening. Tidak ada yang mengganggu. Aku juga pernah mempercayai itu. Sampai suatu hari aku sadar... sendiri memang terasa damai, tetapi melakukan semuanya seorang diri tidak pernah benar-benar mudah. Ada malam-malam panjang ketika pikiran menjadi terlalu ramai. Ada hari-hari ketika dunia terasa terlalu berat untuk dipikul oleh satu hati saja. Dan di sebuah ruangan sunyi, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun: Sendiri itu mudah. Namun hidup, bertahan, dan memeluk semua luka seorang diri... tidak sesederhana kelihatannya. *Alone With Everything* adalah kisah tentang kesunyian, tentang percakapan panjang dengan diri sendiri, dan tentang bagaimana seseorang belajar berdamai dengan semua yang hidup di dalam kepalanya. Karena terkadang, yang paling melelahkan bukanlah dunia, melainkan menjadi satu-satunya orang yang harus selalu kuat untuk diri sendiri.
All Rights Reserved
#27
sunyi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu | ✔
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • My Wish
  • Semua Memukul (✅)
  • Rembulan Yang Sirna
  • poem
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines