The  Silent Expiretion [HIATUS]

The Silent Expiretion [HIATUS]

  • WpView
    Reads 166
  • WpVote
    Votes 37
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 18, 2026
"Satu nyawa dibayar satu nyawa. Seharusnya kau yang mati hari itu, bukan Mama." Kalimat itu adalah kutukan yang harus Tia Clarissa telan setiap hari di mansion Alister. Sejak kecelakaan maut saat ia berusia tujuh tahun, dunia Tia runtuh seketika. Ibunya tewas di tempat kejadian demi melindunginya, sementara Tia harus melewati koma berbulan-bulan hanya untuk bangun dan mendapati dirinya dianggap sebagai pembunuh oleh Papa, Kak Devan, dan Kak Arsen. Di rumah itu, eksistensi Tia hanyalah bayang-bayang kelam dari sebuah tragedi yang tak pernah dimaafkan. Demi menutupi luka batin yang menganga dan rasa haus akan kasih sayang, Tia memilih menjadi "Ratu Malapetaka" di sekolah. Ia menjadi sosok pick-me yang haus perhatian dan ratu bully yang ditakuti, melakukan segala cara agar dunia melihatnya-karena di rumah, ia tidak pernah dianggap ada. Namun, di balik topeng kejam itu, Tia menyimpan rahasia berdarah di balik sapu tangannya. Penyakit langka yang mematikan perlahan menggerogoti sarafnya, seolah setuju dengan kutukan keluarganya bahwa Tia memang harus segera menyusul sang Ibu. Kini, jam pasir tak kasat mata miliknya hampir habis. Di tengah pertengkaran hebat dan kebencian yang kian memuncak, Tia memutuskan untuk berhenti memberontak. Ia bersiap untuk pergi tanpa meninggalkan jejak suara, membiarkan istana Alister mendapatkan ketenangan yang selama ini mereka inginkan. Sebab bagi Tia, kematian bukanlah hal yang menakutkan; yang paling menakutkan adalah terus dianggap sebagai beban dan pembunuh oleh orang-orang yang paling ia sayangi.
All Rights Reserved
#831
tangguh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sabiru Dewangga
  • She Natia "Ceter Gila" || REVISI
  • AFTERTASTE
  • The Path: Road to Formula 1
  • STORY OF SMANTA.
  • Habibi, mine.
  • SEPTIANJIHAN: The Man
  • Two People [Mingyu × Tzuyu] END ✔
  • 74 Seconds [COMPLETED]
  • Abhipraya

BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! "Beberapa cinta tidak diciptakan untuk dimiliki, hanya untuk dikenang dengan doa yang tak pernah selesai." "Saya tidak meminta kamu untuk menunggu. Tapi jika kamu memilih menunggu dan di tengahnya seseorang datang menawarkan rumah untuk tempatmu pulang-pergilah. Saya sendiri tidak yakin bisa menjadi rumah itu." Tiga tahun lalu, Biru Dewangga meninggalkan Jingga Adhisti dengan sebuah janji sederhana: mereka akan bertemu lagi dan saat itu ia akan datang membawa buket bunga. Tiga tahun kemudian, Biru menepati janjinya-namun takdir datang lebih cepat. Jingga telah pergi. Di antara hujan, kamera yang merekam kenangan, dan surat terakhir yang terselip di buku catatan tua, Biru menemukan semua yang tak sempat ia ucapkan. Tentang cinta yang terlalu lama disimpan, tentang luka yang tak pernah selesai, dan tentang seseorang yang tetap memilih mencintai meski tahu akhirnya adalah perpisahan. Namun kisah Biru tidak berhenti pada Jingga. Ada Mentari adik kandung yang tak pernah boleh ia cintai, dan masa lalu keluarga yang menelan mereka perlahan. Di antara dosa, kehilangan, dan cinta yang menolak mati, Biru belajar bahwa beberapa pertemuan hanyalah cara semesta mengajarkan: bahwa cinta sejati kadang harus berakhir sebelum sempat dimulai. "Terima kasih sudah menunggu, Jingga. Aku datang tapi aku kalah cepat dengan takdir." Note: Kalau mau baca jangan siders ya bestie 1#teenlit (2 April 2022)

More details
WpActionLinkContent Guidelines