Dua puluh tahun.
Selama itu Audy hidup dan selama itu juga Samuel mengenalnya.
Bukan sekadar tahu nama, bukan sekadar pernah bertemu. Tapi benar-benar tumbuh dalam garis waktu yang sama- meski tidak pernah berjalan di titik yang sama.
Samuel sepuluh tahun lebih tua.
Saat Audy belajar berjalan, Samuel sudah belajar memahami dunia.
Saat Audy mulai mengenal perasaan, Samuel sudah lama belajar menahannya.
Dan mungkin, dari situlah semuanya... tidak pernah benar-benar sederhana.
Audy menyukai Samuel.
Bukan diam-diam. Bukan setengah-setengah. Bukan juga sesuatu yang perlu ditebak.
Semua orang tahu.
Bagaimana gadis itu dengan mudahnya memanggil,
"Sayang."
"Cinta."
"Calon suami."
Seolah kata-kata itu ringan, seolah tidak ada konsekuensi, seolah dunia akan selalu baik-baik saja selama dia mengatakannya sambil tersenyum.
Dan Samuel, tidak pernah benar-benar menghentikannya.
Tidak membalas. Tidak juga menolak.
Ia hanya berdiri di sana.
Di tempat yang sama selama bertahun-tahun.
Cukup dekat untuk selalu ada, cukup jauh untuk tidak pernah benar-benar menjadi milik siapa pun.
Hubungan mereka,
tidak pernah punya nama.
Bukan teman. Bukan keluarga. Bukan juga pasangan.
Terlalu dekat untuk disebut asing, terlalu jauh untuk disebut saling memiliki.
Namun anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang pergi.
Seolah-olah, tanpa perlu janji, tanpa perlu kepastian, tanpa perlu status,
mereka sudah terikat oleh sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak pernah benar-benar mengerti.
Mungkin itulah masalahnya.
Karena tidak semua hal yang terasa benar memiliki akhir yang benar.
Tidak semua yang bertahan lama ditakdirkan untuk tetap bersama.
All Rights Reserved