Sore itu suasana rumah terasa hangat dan tenang. Cahaya yang berdiri di dekat meja ruang tamu terlihat sangat berbeda dari biasanya. Gadis yang biasanya ceria itu kini tampak salah tingkah. Pipinya masih memerah, sementara tangannya sibuk memainkan ujung kerudungnya karena menahan rasa malu.
Di barisan depannya, Fauzan duduk dengan rapi. Pemuda itu mengenakan baju koko sederhana dengan wajah yang terlihat sopan dan tenang. Sesekali ia melirik ke arah Cahaya, lalu kembali menunduk karena suasana yang sedikit canggung. Meski begitu, senyum tipis tak pernah hilang dari wajahnya.
Sementara itu, Ummi duduk di kursi samping sambil memperhatikan keduanya dengan senyum yang seolah mengerti sesuatu. Ia sesekali menahan tawa melihat Cahaya yang sejak tadi tidak berani menatap Fauzan terlalu lama.
Di atas meja, kantong berisi kue dari ibu Fauzan sudah terbuka. Aroma manisnya memenuhi ruang tamu, menambah suasana hangat di rumah sederhana itu.
Cahaya akhirnya duduk perlahan di kursi yang agak jauh dari Fauzan. Jantungnya masih berdebar sejak pemuda itu datang. Setiap kali Fauzan berbicara, Cahaya hanya menjawab singkat karena terlalu malu.
Di luar rumah, angin sore bertiup pelan menggerakkan tirai jendela. Cahaya sempat melirik ke arah luar untuk menenangkan dirinya, namun ketika ia kembali menoleh, tanpa sengaja matanya bertemu dengan tatapan Fauzan.
Cahaya langsung menunduk lagi dengan cepat.
Melihat itu, Fauzan hanya tersenyum kecil, sementara Ummi yang menyaksikan semuanya semakin yakin bahwa ada perasaan halus yang mulai tumbuh di antara keduanya. 🌸
Suasana sore itu terasa sederhana, tetapi penuh dengan rasa hangat, malu-malu, dan harapan kecil yang perlahan mulai tumbuh di hati Cahaya.
Abigail namanya, putra dari Dominic Salazar. Bocah lima tahun yang suka sekali dengan apel, hidupnya berubah setelah ibu membawanya pergi ke sebuah rumah mewah.
"Ini, Abigail! Salam kenal!"