Giska tumbuh yatim piatu, hanya nenek yang menemaninya. Saat Giska umur 15 tahun, neneknya menghembuskan napas terakhir. namun dia nggak putus asa, ia terpaksa—sekolah sambil kerja paruh waktu, hidup seadanya di kamar kos kecil. Di usia 25 tahun, Giska akhirnya diterima di perusahaan besar. Malam sebelum hari pertama masuk kerja, dia duduk diam di apartemennya, lelah tapi terjaga. Tanpa dia duga, itu malam terakhirnya. Giska meninggal sebelum sempat memulai hari esok.
Dia terbangun dalam tubuh yang kaku dan nyeri, seakan sudah lama berbaring. Ruangan asing, suara asing, dan orang-orang memanggilnya “Gynna”. Padahal namanya Giska bukan?
Giska mencoba bicara, tapi suaranya keluar lemah—lebih halus dari yang dia kenal. Poni jatuh lagi ke mata kanan secara refleks dia menyibaknya, lalu membeku, tangan yang ia angkat bukan miliknya, kulitnya lebih pucat, nadinya berbeda. Di cermin di samping tempat tidur, sepasang iris cokelat menatap balik—kelopak rada turun, lelah permanen yang nggak dia miliki dulu.
Perempuan yang duduk di kursi—Melisa—menyentuh lengannya, suara bergetar, “Gynna, akhirnya kamu bangun setelah 2 Minggu kamu koma.” Giska menelan nama itu, dia memilih diam. Dia ingat apartemennya yang sempit, sepatu kerja baru yang belum dipakai, bunyi ponsel yang nggak pernah lagi berdering untuknya.
Memori Gynna menyelip pelan, lorong sekolah menengah, Gynna tampak seperti siswi jarang bicara. Giska sadar tubuh ini masih SMA—seragam abu-putih tersampir di kursi, ransel biru tua di atas meja, dan jadwal pelajaran kelas XI yang tertempel di dinding kamar.
Giska terpaksa menjalani hidup Gynna. Ketegangan muncul bukan dari kebohongan besar, tapi dari hal kecil, apa dia bisa meniru tulisan tangan Gynna di absensi, atau pura-pura ingat pelajaran yang tak pernah dia pelajari. Giska cuma ingin bertahan sebagai murid kelas XI yang baru pulang dari koma.
All Rights Reserved