We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
ARSITEK PERADABAN

ARSITEK PERADABAN

  • WpView
    Reads 62,435
  • WpVote
    Votes 6,217
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2026
WpInfo
Fanfic
Basketball
Action and Thriller
Adventure
Alan sedang menulis di papan tulis, tangan gemetar saat mencoba menjelaskan materi sejarah. Tiba-tiba sesuatu menghantam kepalanya, dan penghapus jatuh ke lantai, diikuti tawa kecil dari beberapa siswa. Alan menoleh dan melihat Damar duduk santai di dekat jendela, kaki dinaikkan ke kursi, matanya menatapnya lurus. Tanpa menutupi rasa usilnya. "Damar, jangan begitu " suara Alan terdengar cemas. "Kenapa? Cuma penghapus " Damar menjawab datar, mengangkat bahu tanpa menyesal. Sebelum Alan sempat menegur lebih jauh, suara kursi terseret keras dari belakang kelas memotong semuanya. Semua mata menoleh. Raka berdiri dengan langkah pelan tapi berat, berjalan langsung ke Damar. Kelas hening saat Raka berhenti di depan mejanya. "Ambil," suara Raka rendah, menunjuk penghapus di lantai dekat kaki Alan. Damar menatapnya sebentar, lalu menatap Raka lagi. "Kalau nggak?" Tangan Raka mencengkeram kerah seragam Damar dengan cepat. Kursi Damar terdorong ke belakang, membuat Alan tersentak. "Raka, jangan" Raka menoleh sekilas ke arah Alan. "Diam." Alan langsung menutup mulut. Raka kembali menatap Damar dengan tajam. "Jangan sentuh apa pun yang ada di depan kelas." Damar menatap beberapa detik, lalu terkekeh pelan. Ia menunduk, mengambil penghapus dari lantai. Di belakang, Arvin hanya duduk bersandar di kursinya. Matanya mengikuti setiap gerakan, tenang, observatif, tanpa ikut bicara. Di bangku depan, Fariz memutar pulpen di jarinya, menatap Alan tanpa berkedip, berdiri perlahan dan berkata, "Pak Guru." Alan menoleh kaku. "Takut ya tadi?" Alan buru-buru menggeleng. "Ti-tidak..." Fariz tersenyum kecil, senyum yang aneh, seperti menyimpan maksud tersembunyi. "Tangan Bapak gemetar." Dari belakang kelas, suara Raka terdengar dingin " Duduk " Fariz melirik Raka sebentar. "Iya," gumamnya pelan sebelum kembali ke bangkunya. Tapi sebelum duduk, ia menatap Alan sekali lagi. Matanya menyipit. "Kalau ada yang ganggu lagi, gue mau lihat wajah panik pak guru lagi, lucu soalnya "
All Rights Reserved
#357
obsesif
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The King & The Doctor
  • JEEVANA
  • I Want to Live [END]
  • [BL Transmigrasi] Male Concubine [✓]
  • KUASA DUNIAWI(Transmigrasi BL)
  • Second
  • Given || Ju Jihoon
  • Love at Time's Brink [PROSES TERBIT]✔️
  • Secretary Or Mommy? || HIATUS
  • NIGHT NOISES || 🌴🦌 [END]

Aresh-seorang Dokter dari zaman Modern tiba-tiba terlempar ke sebuah negeri kuno yang masih ketinggalan zaman. Ia siap untuk mengacak-acak kerajaan mereka dengan kejeniusan, dan ilmu pengetahuannya yang sudah modern. Awalnya Aresh memutuskan untuk membantu mereka dengan menjadi pelayan istana, tapi ... ketika ia teringat bahwa dirinya itu cukup di hargai di tempat asalnya, dia berubah pikiran. "Bersumpahlah kau akan menjadi pelayanku yang setia!" -Raja Shaka "Pelayan? Bodoh ... aku juga ingin menjadi seorang raja." -Aresh

More details
WpActionLinkContent Guidelines