ARSITEK PERADABAN

ARSITEK PERADABAN

  • WpView
    Reads 54,523
  • WpVote
    Votes 5,511
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2026
Alan sedang menulis di papan tulis, tangan gemetar saat mencoba menjelaskan materi sejarah. Tiba-tiba sesuatu menghantam kepalanya, dan penghapus jatuh ke lantai, diikuti tawa kecil dari beberapa siswa. Alan menoleh dan melihat Damar duduk santai di dekat jendela, kaki dinaikkan ke kursi, matanya menatapnya lurus. Tanpa menutupi rasa usilnya. "Damar, jangan begitu " suara Alan terdengar cemas. "Kenapa? Cuma penghapus " Damar menjawab datar, mengangkat bahu tanpa menyesal. Sebelum Alan sempat menegur lebih jauh, suara kursi terseret keras dari belakang kelas memotong semuanya. Semua mata menoleh. Raka berdiri dengan langkah pelan tapi berat, berjalan langsung ke Damar. Kelas hening saat Raka berhenti di depan mejanya. "Ambil," suara Raka rendah, menunjuk penghapus di lantai dekat kaki Alan. Damar menatapnya sebentar, lalu menatap Raka lagi. "Kalau nggak?" Tangan Raka mencengkeram kerah seragam Damar dengan cepat. Kursi Damar terdorong ke belakang, membuat Alan tersentak. "Raka, jangan" Raka menoleh sekilas ke arah Alan. "Diam." Alan langsung menutup mulut. Raka kembali menatap Damar dengan tajam. "Jangan sentuh apa pun yang ada di depan kelas." Damar menatap beberapa detik, lalu terkekeh pelan. Ia menunduk, mengambil penghapus dari lantai. Di belakang, Arvin hanya duduk bersandar di kursinya. Matanya mengikuti setiap gerakan, tenang, observatif, tanpa ikut bicara. Di bangku depan, Fariz memutar pulpen di jarinya, menatap Alan tanpa berkedip, berdiri perlahan dan berkata, "Pak Guru." Alan menoleh kaku. "Takut ya tadi?" Alan buru-buru menggeleng. "Ti-tidak..." Fariz tersenyum kecil, senyum yang aneh, seperti menyimpan maksud tersembunyi. "Tangan Bapak gemetar." Dari belakang kelas, suara Raka terdengar dingin " Duduk " Fariz melirik Raka sebentar. "Iya," gumamnya pelan sebelum kembali ke bangkunya. Tapi sebelum duduk, ia menatap Alan sekali lagi. Matanya menyipit. "Kalau ada yang ganggu lagi, gue mau lihat wajah panik pak guru lagi, lucu soalnya "
All Rights Reserved
#161
bromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Crazy Obsession (End✔️)
  • Koa And The Demon
  • Bloviate.
  • Jace's New Life [Transmigrasi]
  • Lebih Baik, Ku Hidup Tanpa Cinta
  • Father's Return
  • Transmigrasi Aktor Antagonis
  • Papah angkat & Anak angkat
  • Takdir Di Antara Dua Nama
  • LITTLE HOPE [Koilo]
  • The Lost Cael (Selesai)
  • Pangeran Bermata Biru
  • Asta to Asher
  • 𝐀𝐊𝐔 &𝐒𝐀𝐇𝐀𝐁𝐀𝐓𝐊𝐔 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐕𝐄𝐑𝐒𝐈 𝟑 𝐃𝐈𝐑𝐈𝐍𝐘𝐀 [𝐎𝐍 𝐆𝐎]
  • After Living In Apartment (Selesai)
  • Little Father
  • BE(LIE)VE
  • Hak Milik
  • After the Fall
  • karakter kecil ini mengasuh keluarga iblis?! {End}

Bromance kentel ( pake banget, bukan bl )✔️ Anak posesif ayah✔️ Setiap karakter gila ✔️ Isinya lebih gila✔️ Bahasa campuran✔️ Untuk 18+ ✔️ Aizeeland Altakara. Seorang remaja 18 tahun yang tewas karena dicium, tiba-tiba terbangun dan menempati tubuh seorang pria yang menjadi pusat obsesi gila keluarga nya. _______________ "Dia ayahku!" "Menjauh darinya, atau ku ambil jantung mu!" "Ku beri dua pilihan. Mati atau mati? " *** HANYA ADA DI SINI DAN AKUN INI. KALO NEMU DITEMPAT LAIN, BERARTI PLAGIAT Cover by pint

More details
WpActionLinkContent Guidelines