We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Gincu Di Atas Lumpur

Gincu Di Atas Lumpur

  • WpView
    Reads 61
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 3, 2026
WpInfo
Fiction
Culture and Identity
East Asian
Social Themes
Growth and Self-Discovery
Di Kertamaya, Maya adalah sosok yang tak pernah dicurigai. Dengan hijab sutra dan tutur kata yang teramat santun, semua orang mengiranya hanyalah seorang gadis biasa yang lemah lembut. Namun, di balik senyum teduhnya, Maya adalah sang "Mucikari" terselubung-pemegang kendali atas nasib dan harga diri rekan-rekannya. Maya-lah yang merajut jaring-jaring dosa para korbannya. Hana yang terkesan lugu dan sucinya, Laras yang paling ambisius, Santi yang terjebak hedonisme, dan Ratna yang terhimpit biaya pengobatan anak. Maya membangun imperium rahasia dengan memanipulasi kemiskinan menjadi komoditas demi mengamankan posisi dan ambisinya sendiri. "GINCU DI ATAS LUMPUR" adalah sebuah potret tajam mengenai eksploitasi perempuan, rapuhnya moralitas di bawah tekanan ekonomi, dan perjalanan pahit menuju sebuah ambisi untuk memerdekakan diri dari masa lalu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auto Save!
  • ELION (bl)
  • Tresna Kang Tinatih Ing Alas Jati
  • PROYEK SATU TAHUN
  • "Liburan" Bonus Suami
  • Trouble Maker[END]
  • Lysander Lowell De Villiers
  • After the Fall
  • Target Si Supir [END]
  • The Pinky Boy

​"Bang, sumpah gue capek direvisi terus. Pengen resign terus nikah sama sugar daddy aja rasanya." "Kirimkan syarat pendaftarannya ke saya." "Hah? Pendaftaran apaan? Staf desain baru?" "Pendaftaran untuk menjadi laki-laki yang membiayai seluruh sisa hidup kamu." "Bang, kata anak-anak, Abang baru aja nolak Kak Dita ya? Padahal dia primadona kampus loh." "Itu bukan urusan kamu." "Lagian Abang nyari standar yang kayak gimana sih? Yang modelan bidadari turun dari kahyangan aja ditolak mentah-mentah." "Saya mencari yang berantakan, paling susah diatur, hobi begadang, dan selalu membantah ucapan saya..." "..." "Dan wangi tubuhnya seperti permen stroberi." Javas Mahesa (Jaja) mengira kutukan terburuknya sebagai mahasiswa DKV adalah urban legend hantu gantung diri di kosan lantai empatnya. Ternyata dia salah besar. Bencana aslinya justru berwujud Rendra Aditama, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum sekaligus koordinator divisinya yang kaku, galak, dan punya hobi meneror kanvas Figma milik Jaja dua belas jam sehari. Berawal dari keterpaksaan berburu sertifikat kelulusan, Jaja pikir penderitaannya di bawah kekuasaan kursor biru itu hanya sebatas nasib staf bawahan yang tertindas. Namun, dengan semua rentetan revisi tanpa ampun, kating hukum itu rupanya menyimpan agenda lain. Rendra tidak hanya berniat mendominasi kanvas desain Jaja, tapi juga seluruh perhatian, waktu, dan detak jantung mahasiswa baru yang selalu membuatnya pusing itu. Selamat datang di pusaran Nawasena Project. Tempat di mana revisi desain tidak pernah selesai, dan sikap posesif ugal-ugalan bersemi secara paksa dari sebuah ruang kerja digital. [Rank #1 - di #kampus 03/06/2026] [Rank #4 - di #bllokal 26/05/2026] [Rank #11 - di #boyslove 16/06/2026] Di-publish pertama kali pada Mei 2026.

More details
WpActionLinkContent Guidelines