BICARA PADA SUNYI

BICARA PADA SUNYI

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 32
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 12, 2026
Di sebuah halte tua yang cat birunya perlahan rontok dimakan waktu, tiga orang asing duduk bersisian tanpa kata. Mereka adalah pemilik sunyi yang paling dalam di sudut kota Jakarta. Bara, seorang pemuda yang tangannya kasar oleh debu semen, namun hatinya hancur oleh rasa bersalah yang tak sanggup ia bayar dengan uang kiriman ke desa. Aluna, gadis dengan seragam sekolah yang selalu tampak sempurna, namun jiwanya terkurung dalam labirin angka-angka dan ekspektasi yang menyesakkan napas. Dan Sari, seorang wanita dengan syal ungu dan kamera analog tua, yang menatap dunia seolah-olah setiap rintik hujan adalah sebuah mahakarya yang harus ia jaga sebelum ia pergi jauh memburu cahaya. Di Kedai Kopi Harapan, tempat kepul uap espresso bertemu dengan aroma hujan, ketiganya mulai menyadari bahwa luka tidak selamanya harus dipikul sendirian. Bahwa di balik keheningan yang mereka jaga, ada gema yang ingin didengar. Ini bukan sekadar cerita tentang penderitaan, melainkan tentang bagaimana cinta dan pengakuan bisa tumbuh di tempat yang paling retak sekalipun. Karena terkadang, kebahagiaan terbesar bukan datang saat luka kita sembuh, melainkan saat kita menemukan seseorang yang bersedia mendengar saat kita... Bicara pada Sunyi.
All Rights Reserved
#139
kecelakaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula
  • Salah Status
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines