Don't Tell Them

Don't Tell Them

  • WpView
    Reads 220
  • WpVote
    Votes 54
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadMatureComplete about 1 hour ago
-Don't Tell Them "Lo takut dimarahin papa, ya?."Tanyanya, dibalas gelengan. "Terus, apa yang Lo takutin didunia ini?." "Elo."Balasnya. "Gue? Kenapa harus gue?." Ia mengangguk kecil, sebelum kembali berkata "Gue takut kehilangan lo."Ujarnya."Tetap berjalan. Gue disini, jagain Lo dari setiap sisi." Dari kecil dia tidak pernah takut akan malapetaka, tidak pernah goyah jiwa maupun raga. Dia yang berdiri tangguh, menjaganya dari setiap sisi. Sekalipun badai besar menghampiri, ia yang akan menghadapinya sendiri. Tak peduli seberapa dahsyatnya nanti, yang ia lindungi hanya gadis kecil yang hidupnya ia hargai dimuka bumi ini. Ya, sedari kecil ia lindungi. °°🌷°° "Saya hanyalah sebuah prosa, yang ditinggalkan secara tak sengaja."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Love me or die
  • Same, But Not
  • Justine
  • Last Hope - Cawooz
  • The Servant [James Harem]
  • Garwo
  • FRIEND'S? - KRATINGMEEN
  • TOXIC BOYFRIEND
  • I'm Not Just a Figuran
  • Jodoh Pilihan Mama

"Gila! Axelio benar-benar sakit jiwa!" umpat Yura keras-keras pada kamar kosnya yang sepi. Bagaimana tidak? Axelio Valcrest, sang antagonis pria berdarah dingin, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arcelia , si female lead yang berhati malaikat. Cinta yang semula indah berubah menjadi obsesi gelap yang mengerikan. Karena cintanya ditolak-sebab Arcelia mencintai sahabat kecilnya, Elvano sang male lead utama-Axelio tanpa ragu menghabisi Elvano dan mengurung Arcelia di dalam mansion mewahnya yang menyerupai sangkar emas. Namun, yang paling membuat Yura meradang adalah nasib tunangan Axelio, Ravena Dracarys. Sebagai antagonis wanita, Ravena begitu terobsesi pada Axelio. Puncaknya, hanya karena Ravena menampar Arcelia demi mempertahankan harga dirinya, Axelio tanpa belas kasihan mengeksekusi tunangannya sendiri. Perut Yura tiba-tiba berbunyi nyaring, memutus untaian kekesalannya. "Aduh, lapar lagi. Keluar bentar deh, di depan gang biasanya masih ada yang jual nasi goreng." Sambil bersenandung kecil untuk mengusir sepi, Yura berjalan menyusuri trotoar malam yang lengang. Dia baru saja hendak menyeberang jalan ketika seberkas cahaya silau memedihkan matanya dari arah samping. Tinnnnnnnnnnn! "Ravena... Sayang, bangun..." Gila! Gue transmigrasi?! jerit Yura dalam hati. "Axel, aku ingin membatalkan pertunangan kita." "Ravena Dracarys..." Axel berbisik rendah, suaranya terdengar seperti seringai iblis yang merayap di kulit. "Kau pikir... kau siapa bisa memutuskan untuk membatalkan pertunangan ini secara sepihak, hm?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines