Halo hanya anak lelaki berumur 7 tahun yang hobi mengobrol, menceritakan kegiatan hari-harinya dengan suara riang. Namun, bukan pada teman sebaya atau orang tua. Halo bercerita pada mereka yang tidak ada.
Makhluk halus, ghaib, mereka yang tak terlihat.
Pada merekalah Halo bisa mengeluh dan mengatakan perasaan yang sebenarnya bahwa di dunia ini, ia tak memiliki siapa-siapa.
Hingga di minggu kedua bulan Januari, Halo harus menerima keluarga baru yang mengadopsinya dari panti. Ada ayah, bunda, dan abang.
Dari sana, kehidupannya tentu saja tidak sama. Namun, apakah itu justru keberuntungan atau sebaliknya? Apakah mereka bisa menerima bahwa Halo memiliki kelebihan yang justru dianggap sebagai kekurangan yang tak menguntungkan?
130426
All Rights Reserved