16.00
  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 12, 2026
Nanila selalu percaya bahwa bahagia tidak selalu datang seperti angin pagi yang berhembus ringan. Kadang ia hadir tanpa tanda. Seperti pertemuannya dengan Ergo di sebuah galeri kecil yang hampir tak pernah berpengunjung. Pria itu berdiri dengan buku sketsa di tangannya, seolah selalu menemukan sesuatu yang perlu dikoreksi. "Yang itu belum selesai," katanya, menunjuk sebuah lukisan abstrak. Nanila mengernyit. "Kelihatannya sudah. Kenapa dipajang kalau belum selesai?" Ergo tersenyum tipis. "Belum tentu. Kadang abstrak terlihat selesai bagi orang lain yang tak benar-benar mengerti arti warnanya." Percakapan sederhana itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun pertemuan kecil itu mengalir tenang. Waktu berjalan tanpa terasa. Empat tahun berlalu seperti hitungan yang terlalu cepat-dari tak sengaja menjadi rumah, dari obrolan ringan menjadi kehidupan yang dibangun bersama. Sore selalu datang dengan cahaya yang sama. Hangat. Tenang. Cukup. Sampai suatu hari, tepat ketika jarum jam berhenti di angka 16.00, dunia Nanila berubah menjadi denging panjang yang tak berujung. Sejak hari itu, ada sesuatu yang terasa janggal. Beberapa tempat menjadi terlalu familier. Beberapa percakapan seperti pernah terdengar sebelumnya. Beberapa kejadian terasa seperti kaset lama yang diputar ulang. Lalu suatu hari, Nanila kembali berdiri di depan galeri yang sama. Pintu yang sama. Lonceng yang sama. Dan pria yang sama-dengan buku sketsa di tangannya. Ergo menoleh dan menatapnya sejenak. Seolah mencoba mengingat sesuatu yang tidak benar-benar ia kenal. "Maaf," katanya pelan, "kita pernah bertemu sebelumnya?" Nanila terdiam. Aneh. Hatinya terasa seperti telah berulang kali melalui momen ini. Padahal mereka bahkan belum pernah benar-benar saling mengenal.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Salah Status
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula
  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

⚠️UPDATE SETIAP HARI SENIN DAN KAMIS ⚠️ "Jangan tertipu wajah polosnya. Bocah 5 tahun ini adalah calon pembunuhku." Bangun di tubuh Seraphina, ibu tiri jahat dalam novel populer, adalah nasib tersial. Terutama karena dia tahu akhir hidup Seraphina bukanlah bahagia selamanya, melainkan mati mengenaskan di ujung pedang anak tirinya sendiri, Luca. Di novel aslinya, Luca tumbuh menjadi Tyrant kejam karena siksaan masa kecil, dan orang pertama yang ia eksekusi saat berkuasa adalah ibu tirinya. Seraphina punya waktu sebelum Luca dewasa. Tujuannya sekarang: 1. Stop menyiksa Luca. (Jelas). 2. Buat Luca menyukainya. (Agar namanya dicoret dari daftar balas dendam). 3. Kumpulkan uang, cerai, lalu kabur sejauh mungkin sebelum Luca ABG. Rencananya berjalan mulus. Namun, Seraphina lupa satu hal. Ayah anak itu, Duke Alistair, yang seharusnya dingin dan tak peduli, mulai menaruh curiga pada perubahan drastis istrinya. Kecurigaan yang perlahan berubah menjadi obsesi gila. "Kau mau pergi kemana, Istriku? Kau pikir aku akan membiarkanmu membawa lari hati putraku... dan hatiku?" Ranking Wattpad: 🥇fiksi [04, 06-08/01/2025] 🥇fiksi remaja [08/01/2025] 🥇fiksi sejarah [08/01/2025] 🥇fantasi [04, 08/01/2025] 🥇fiction [08/01/2025] 🥇reinkarnasi [04, 06-08/01/2025] 🥇kerajaan [04-08/01/2025] 🥇historical romance [04-07/01/2025] 🥇posesif [06-08/01/2025]

More details
WpActionLinkContent Guidelines