Mustahil Memilikinya

Mustahil Memilikinya

  • WpView
    Reads 1,017
  • WpVote
    Votes 100
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadComplete Sat, Apr 25, 2026
Menceritakan tentang gadis remaja bernama Ardhila Mawandy yang diam-diam menyukai teman sekelasnya bernama Berlian sejak dua tahun lalu, namun sayangnya Berlian yang merupakan cowok paling itu jarang merespon dirinya hingga membuat Hana dan Haikal geram. Saat Ardhila putus asa, Haikal membantunya dekat dengan Berlian, namun Hana sahabatnya tetap menentang mereka dekat dengan alasan takut Ardhila makin sakit lagi nantinya. Di balik upaya Haikal mendekati Ardhila dengan Berlian justru mengukap fakta tentang kelamnya kehidupan Berlian yang selalu di selimuti dengan rasa sepi dan tekanan. Bagaimana kisahnya selanjutnya?... Yuk baca bersama..
All Rights Reserved
#115
fattah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku & Kamu Kita
  • Langit & Bumi - moqeel
  • ADDICTED
  • Hug Me
  • Dynasty of Fire
  • mOoqeel's love (S1)
  • LOVE AND FAMILY
  • Cinta Kita?
  • CINTA YANG LAMA KEMBALI:)
  • cinta Seorang duda anak kembar

Qil... maaf, gue nggak sadar sama apa yang barusan kita lakuin," ucap Mohan, suaranya lirih, penuh penyesalan. Namun penyesalan itu tak mampu membendung luka di dada Aqila. Ia menatap Mohan dengan mata yang basah dan penuh kekecewaan. Suaranya pecah, histeris, "Diem lo! Gue salah apa, Mohan? Kenapa lo jahat banget sama gue? Gue benci lo, Mohan! Akhhhhh!!" Jeritannya menggema, memecah malam yang sepi. Mohan panik. Ia mendekat, mencoba menenangkan dengan memeluk tubuh Aqila yang bergetar. Tapi Aqila memberontak, menolak sentuhan itu seolah menyentuhnya adalah membuka kembali luka yang belum sembuh. "Lepasin! Lepasin gue! Jangan lakuin itu lagi... Sakit... Sakit!" isaknya keras. Mohan terdiam sesaat, menelan semua rasa bersalah yang menyesakkan. Ia mengendurkan pelukannya, menatap wajah Aqila yang basah oleh air mata. Dengan lembut, ia genggam wajah Aqila, memaksanya menatap ke arahnya. "Oke, gue lepasin. Tapi plis, Qil... Tenang dulu, oke?" Aqila hanya terisak. Tidak menjawab. Tidak memukul. Tidak menolak. Tapi juga tidak menerima. Malam itu menjadi saksi, bahwa kadang maaf tidak cukup. Ada luka yang butuh lebih dari sekadar kata-kata untuk sembuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines