Hati yang dingin, hidup yang terukur, dan senyuman yang tak pernah ia miliki.
Arkana adalah definisi kesempurnaan. Dingin, cerdas, dan tak tersentuh di lantai 28. Ia menjalani hidupnya melalui angka-terprediksi, terkendali, dan sepenuhnya sunyi.
Lalu hadir Rania. Ia adalah segala hal yang bukan Arkana: spontan, hangat, dan satu-satunya orang yang mampu meruntuhkan dinding pertahanan Arkana hanya dengan kalimat sederhana, "Pagi, Pak Arkana."
Di tengah keheningan kantor, tatapan mata tertahan terlalu lama. Dasi yang miring dirapikan oleh tangan yang bukan miliknya. Dan untuk pertama kalinya, perhitungan Arkana tidak lagi masuk akal.
Namun, tepat saat es itu mulai retak, ia melihatnya. Sebuah mobil hitam, seorang pria misterius, dan senyum yang diberikan Rania dengan terlalu mudah.
Dalam dunia bisnis dan logika, Arkana akan segera belajar bahwa perasaan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia kendalikan. Apakah ia sedang memperjuangkan hati yang sudah milik orang lain? Ataukah ancaman terbesar bagi hatinya... adalah cemburu butanya sendiri?
Sebuah kisah romansa kantor yang lambat laun membara (slow-burn), tentang rahasia-rahasia berisik yang kita simpan di balik pintu kantor yang tertutup rapat.
All Rights Reserved