mawar yang tak pernah kusiram

mawar yang tak pernah kusiram

  • WpView
    Reads 58,359
  • WpVote
    Votes 7,099
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 22 hours ago
cintanya menyakitkan, cintanya berdarah, cintanya membunuh dan sekarang hatinya mati tapi jiwanya harus tetap tegar karna ada dua nyawa yang bergantung padanya. Dipta, pria berusia 37 tahun itu tengah panen hasil dari dosanya dimasa lalu. bukan cerita horor ya, mohon dukungannya teman-teman yang sudah mampir dan membaca jangan lupa tinggalkan vote/like nya. tidak boleh mengcopy juga ya!
All Rights Reserved
#4
rumahtangga
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vows of Eternity
  • A Swiss to Remember
  • Bukan Salah Cintanya
  • Sekali Lagi Untuk Kita
  • Anna - Istriku yang Buta dan Sakit Jiwa
  • Dian(tara) Yanuar (END)
  • seragam coklat & gincu merah
  • Welas Asih
  • AFTER  ALL
  • Cinta Lama Belum Kelar
  • TAKHTA TANPA JIWA
  • Witing Tresna
  • Segelas Berdua
  • (Un)Wanted Bride
  • AKU BUKAN DIA
  • Mengenang Rasa
  • Yang Terbaik  (TAMAT)
  • DEADLINE CINTA
  • Bidadari Tak Bersayap (TAMAT)
  • Siksa Kinanti

Hujan turun perlahan di luar jendela kaca yang berembun. Aroma tanah basah dan kopi hitam memenuhi ruang tamu yang terlalu besar untuk dua orang asing yang tinggal di dalamnya. Najwa duduk di pojok sofa dengan selimut tipis di pangkuan, matanya menelusuri halaman novel yang belum ia pahami sepenuhnya. Kata-kata tak benar-benar menempel malam ini. Seseorang di seberang ruangan sedang menelepon dalam bahasa yang tak ia pahami, tapi suaranya tenang... hampir seperti hujan itu sendiri. Tengku Faiq berdiri membelakangi jendela, punggung tegap, rambutnya masih basah oleh air gerimis. Ia menutup telepon pelan dan menatap Najwa dengan pandangan yang tak menuntut, hanya mengamati. Mereka sudah tinggal bersama selama delapan hari. Tujuh malam sebelumnya berlalu dalam diam yang sopan, percakapan yang terlalu hati-hati, dan jeda panjang di antara pertanyaan sederhana. "Esok saya harus ke Pekan. Awak ikut, atau tetap di sini?" tanyanya, nada suara datar namun tak dingin. Najwa menutup bukunya perlahan. "Apa harus ikut?" Ia mengangkat alis. "Tak perlu. Tapi kalau awak mahu... ada tempat yang indah dekat pelabuhan. Lautnya seperti kaca." Tak ada jawaban. Hanya sepasang mata yang saling menatap, seperti dua orang asing yang tersesat dalam rumah yang sama, mencoba menemukan arah, tanpa kompas yang pasti - kecuali waktu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines