The Sin Of Forgiveness Border [ END ]
Langkah demi langkah terlewati, di atas bebatuan yang mengikis kulit, rasa perihnya tidak lagi bisa dibedakan-apakah masih sakit, atau hanya sisa ingatan tubuh yang belum sempat hilang.
Rantai besi bergemerincing pelan di kedua kaki yang lecet. Suaranya berulang. Teratur. Terlalu teratur... seperti bukan lagi suara, melainkan sesuatu yang sengaja dibiarkan tinggal di kepala.
Angin berhembus dingin, namun tidak ada satu pun daun yang bergerak.
Gagak berputar di atas kepala, bersahutan tanpa henti. Suara mereka tidak semakin jauh, tidak juga semakin dekat. Seolah-olah jarak tidak berlaku di tempat ini.
Aku mendongak.
Tidak ada langit.
Hanya sesuatu yang seharusnya menjadi langit... namun terasa kosong. Terlalu kosong, sampai mata mulai meragukan apa yang sebenarnya sedang dilihat.
Aku diseret.
Tubuh ini jatuh, terbanting, lalu dipaksa berdiri. Luka demi luka terukir tanpa jeda, tanpa tujuan yang jelas-seolah bukan untuk menyakiti, melainkan untuk memastikan bahwa rasa itu tidak pernah benar-benar hilang.
Aneh.
Rasa sakit yang terus-menerus... perlahan mulai menghilang.
Dan itu jauh lebih mengganggu.
Perjalanan berlanjut, hingga dunia berubah menjadi danau hitam yang tidak memantulkan apa pun. Tidak ada bayangan. Tidak ada bentuk. Bahkan ketika aku mencoba melihat diriku sendiri... tidak ada yang kembali.
Sebuah perahu.
Sebuah koin.
Dan pertukaran yang berlangsung tanpa suara.
"Deynadra Gyoverisklyn?"
Sebuah tanda diberikan.
Sebuah catatan dibuat.
Tidak ada yang menjelaskan berapa banyak yang tersisa. Tidak ada yang menjelaskan apa yang sebenarnya harus diampuni.
Dan yang paling mengganggu-
Tidak ada yang bisa memastikan... apakah ini benar-benar sedang berjalan maju, atau hanya mengulang sesuatu yang sama, berulang kali...
Tanpa pernah berakhir.
Tanpa penjelasan. Tanpa penolakan.
Hanya satu kalimat yang tersisa-
*Pengampunan dosa tahap 73.*