Sekilas Tatap

Sekilas Tatap

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 12, 2026
Hania Amara Santoso, yang akrab di panggil Hani. Gadis biasa, telah terbiasa menjadi anggota paskibra. Hari-hari SMA-nya diisi dengan rutinitas, barisan yang rapi, dan lingkaran kecil teman dekat yang selalu mengerti dirinya. Meski pendiam, Hani tidak sepenuhnya luput dari perhatian. Tatapan penasaran, bisik-bisik, dan rasa ingin tahu teman-teman sekelas sering kali menghampirinya. Namun, Hani tetap menjalani semuanya dengan senyum kecilnya yang tenang, menutupi rasa canggung atau ketidaknyamanan yang mungkin muncul. Suatu pagi, pandangan seorang cowok dari kelas IPS tertuju padanya-tidak sekadar sekilas, tapi penuh ketertarikan. Tiba-tiba, dunia kecil Hani yang aman mulai terguncang oleh perhatian yang tak ia minta. Bagaimana Hani tetap mempertahankan ketenangan, identitas, dan senyum kecilnya di tengah hiruk-pikuk SMA, gosip, dan rasa penasaran orang lain? Sebuah kisah tentang tenang di tengah keramaian, senyum yang berbicara, dan hati yang perlahan mulai terbuka.
All Rights Reserved
#158
kenangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Define the Relationship
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EKSKALASI
  • Nakula
  • Almost Married (On Going)
  • Kembang Desa
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Dangerous Deal S1-S2 (on going)
  • NINGRUM

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines