Zee percaya bahwa ingatan manusia adalah pengkhianat paling ulung. Itulah sebabnya ia selalu mengalungkan kamera instan di lehernya. Baginya, jika sebuah momen tidak dicetak di atas selembar kertas foto, maka momen itu tidak pernah benar-benar terjadi.
Di kampus, semua orang mengenal Zee sebagai gadis yang "cerah". Ia ceria, sedikit kikuk, dan sering kali menertawakan dirinya sendiri karena sifatnya yang pelupa. Hidupnya tampak sederhana, hanya seputar tugas kuliah, tawa bersama sahabat, dan hobi memotret hal-hal random yang ia temui.
Namun, perlahan-lahan, warna pastel dalam hidup Zee mulai terkikis.
Semuanya bermula ketika kamera instannya mulai menangkap gambar-gambar yang tidak pernah ia ingat telah ia ambil. Sudut-sudut gelap yang asing, bayangan seseorang yang tersembunyi, hingga bercak merah yang tampak nyata di atas kertas foto. Bersamaan dengan itu, orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian janggal yang tak masuk akal.
Di saat yang bersamaan ketika Zee merasa dunianya mulai aneh, seseorang dari masa lalu kembali muncul membawa tatapan yang sulit diartikan, sementara seseorang yang baru datang menawarkan perlindungan yang terasa menenangkan.
Zee terjebak di antara potongan puzzle yang hilang. Ia tidak sadar bahwa setiap kali blitz kameranya menyala, ada rahasia yang berusaha mendobrak keluar dari balik ingatannya yang terkunci.
Karena terkadang, hal yang paling mengerikan bukanlah apa yang tidak bisa kita lihat... melainkan apa yang kita lakukan saat kita tidak sedang menjadi diri sendiri.
Beberapa momen memang sebaiknya tetap tertidur, sebelum cahaya mengungkap segalanya. -Zee
Arunika Sandyakala, gadis 22 tahun yang tengah menikmati healingnya di Italia, tepatnya di kota Roma, harus bernasib sial karena tiba-tiba diculik oleh beberapa pria berbadan besar dan di sekap di ruang bawah tanah.
Dia mengumpati nasib sial yang menimpanya. Kenapa harus berakhir sial menjadi tawanan salah tangkap?
Bukannya takut hidupnya berakhir begitu saja di hadapan pria yang menjadi ketua Mafia terbesar di daratan Eropa itu, Arunika malah mengumpati pria pertengahan 30 tahun itu sejadi-jadinya.
Matteo, pemimpin Mafia terkenal di daratan Eropa itu cukup takjub dengan gadis yang mengaku korban salah tangkap oleh bawahannya.
Dia cukup takjub dengan keberanian Arunika yang meludahinya sembari mengumpat dengan suara melengking khas gadis itu, membuat telinganya pengang selama beberapa detik.
"Kau salah tangkap bajingan! Lagi pula untuk apa aku menjadi mata-mata Mafia mu? Not my style sekali, tuan!"
•••
This is my first story, don't plagiaze it!