Bagi Anisah, Andalusia adalah gerbang pembuka, namun Alhambra adalah puncak dari segala mimpi yang ia langitkan dalam sujudnya di pesantren. Dari balik tembok pesantren yang sederhana, ia selalu membayangkan dirinya berdiri di antara ukiran kaligrafi yang merambat di dinding-dinding istana merah itu. Kini, mimpi itu berdiri nyata di hadapannya.
Di tengah perjuangannya menjaga marwah sebagai mahasiswi di tanah Eropa, Anisah bertemu dengan Fatih. Pertemuan mereka seolah digariskan oleh takdir di bawah naungan Generalife, di mana suara gemericik air mancur menari di antara wangi bunga mawar dan melati. Fatih, dengan ketenangan seorang pria yang juga dibesarkan oleh kitab-kitab kuning, menjadi kompas bagi Anisah saat dunia Barat mulai mengguncang prinsipnya.
Mereka menyusuri lorong-lorong Patio de los Leones, mengagumi detail arsitektur yang membisikkan kejayaan masa lalu. Di sana, di bawah bayang-bayang kejayaan Islam di Andalusia, Fatih mengajarkan satu hal: bahwa iman tidak mengenal batas geografi, dan sejauh apa pun kaki melangkah, hati harus tetap memiliki kiblat yang sama.
Namun, di antara keindahan taman-taman Granada dan senja yang menyepuh dinding Alhambra menjadi keemasan, sebuah tanya muncul:
Apakah kehadiran Fatih adalah jawaban atas doanya tentang cinta, atau justru ujian terakhir bagi keteguhan hatinya sebelum ia benar-benar pulang?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang