Sinopsis : Angeloz Cerrie Narendra adalah nama yang selalu diagungkan di sekolah. Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah atas, ia tak pernah sekali pun turun dari posisi teratas. Prestasi, jabatan, pujian, semuanya selalu jatuh ke tangannya. la adalah sosok sempurna yang dikagumi semua orang.
Semua orang, kecuali Irene Kay Grizelle.
Bagi Irene, Angeloz bukan sekadar murid berprestasi. Ia adalah rival abadinya. Nama yang selalu berdiri satu langkah di atasnya. Nilai yang hanya terpaut tipis namun tetap tak pernah bisa ia kalahkan. Semua perbandingan yang terus menyeret nama mereka berdua dalam satu napas membuat Irene semakin muak padanya.
Namun kebencian itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit saat mereka menginjak kelas sebelas.
Ayah Angeloz, Seandeo George Narendra, membawa pulang seorang wanita bernama Shaniva Grazielle wanita yang ternyata adalah ibu Irene.
Tanpa persetujuan siapa pun, keduanya memutuskan untuk menikah, mengubah Irene dan Angeloz menjadi saudara tiri dalam semalam.
Lelucon terburuk dalam hidup Irene dimulai sejak saat Rival yang paling ia benci kini menjadi orang yang harus ia temui setiap hari, tinggal di bawah atap yang sama, dan perlahan menghancurkan batas yang seharusnya tak pernah disentuh.
Sampai suatu malam, ketika rumah sedang kosong dan tak ada siapa pun selain mereka berdua, sesuatu terjadi.
Sesuatu yang membuat hubungan mereka tak lagi bisa disebut sekadar kebencian.
"That crossed the line, Angeloz."
Irene menatapnya dengan rahang mengeras, menahan marah sekaligus gemetar oleh sesuatu yang tak ingin ia akui.
"I'm trying not to lose control."
Tatapan Angeloz jatuh tepat ke matanya, penuh emosi yang terlalu kacau untuk diterjemahkan.
"We're stepsiblings."
Itu seharusnya menjadi akhir. Sebuah batas. Sebuah pengingat.
Tapi bagaimana jika kebencian yang terlalu lama dipelihara justru berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya?
"Gue terpaksa nikah sama lo, demi bayi yang ada di perut lo."
Kata-kata itu jatuh seperti pisau yang menancap tepat di hati Kiana Alisha. Pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia, kini hanya terasa seperti hukuman. Ia tidak diinginkan. Bukan sebagai istri, bukan sebagai seseorang yang layak dicintai.
Pria di hadapannya, sosok yang dingin dan kasar, menikahinya bukan karena cinta-hanya karena tanggung jawab, Tatapan matanya tajam, seolah berkata bahwa semua ini hanya sementara. Bahwa setelah bayi itu lahir, segalanya akan berakhir semuanya.
Namun, takdir selalu punya cara untuk mempermainkan hati manusia. Dalam kebencian, mungkin terselip perasaan yang tak terduga?