" Aya anak panti"
Hujan deras menimpa halaman panti, tapi suara langkah mereka lebih memekakkan. Zafnan menatap anak itu, Athaya yang berdiri kaku di tengah koridor, tangan gemetar.
"Jangan panggil dia begitu," kata Zafnan, suara dingin seperti es.
Anak yang memanggil Athaya tertawa sinis, tapi tawa itu mati di tenggorokannya ketika tatapan Zafnan menembusnya. Udara di sekeliling mereka berubah berat, napas anak-anak lain tercekat, seolah menunggu ledakan yang bisa datang kapan saja. Dalam diam itu, satu hal jelas, siapa pun yang mengganggu Athaya akan menghadapi Zafnan, dan tidak ada yang tahu sampai sejauh mana dia bisa pergi.
Di balik hujan dan teriakan, sesuatu lebih gelap bersembunyi, obsesi, kepemilikan, dan rasa takut yang tidak bisa dijinakkan. Sebuah konflik yang baru saja dimulai, namun sudah berbisik ancaman untuk setiap hati yang mendekat terlalu dekat.
Dalam detik itu, hujan di luar tampak berhenti, koridor membeku, dan ini bukan hanya tentang melindungi. Ini tentang kepemilikan, obsesi, dan perang yang tidak akan pernah selesai. Zafnan ingin menjaga Athaya dari dunia. Athaya ingin memilikinya, sepenuhnya, tanpa kompromi. Dan siapa pun yang mencoba ikut campur akan merasakan kemarahan dari dua jiwa yang terikat dalam obsesi yang sama-sama membara.
All Rights Reserved