Di SMA garuda , semua orang mengenal Martin si alpha dominan, kapten tim basket, populer, dingin, dan nyaris sempurna. Tidak ada yang berani mendekat terlalu jauh, apalagi menentangnya.
Kecuali satu orang.
Juhoon.
Omega pendiam yang selalu duduk di dekat jendela, tidak punya teman, jarang bicara, dan dianggap aneh oleh hampir seluruh sekolah. Ia tidak pernah terlihat takut pada alpha, tidak pernah mencari perhatian, dan seolah hidup di dunianya sendiri.
Namun bagi Martin, Juhoon bukan aneh.
Juhoon adalah seseorang yang sudah diam-diam ia perhatikan sejak MOS tahun pertama - saat semua omega gemetar di hadapan senior alpha, tapi anak kecil berwajah tenang itu hanya berdiri tanpa ekspresi, tanpa rasa takut sedikit pun.
Sejak hari itu, perasaan Martin tidak pernah berubah.
Tanpa alasan jelas, Martin mulai duduk di samping Juhoon, mengawasinya dari dekat, dan secara halus menjauhkan orang lain darinya. Bagi siswa lain, itu terlihat seperti sikap posesif seorang alpha terhadap omega lemah.
Padahal kenyataannya... Martin justru yang paling tidak ingin Juhoon terluka.
Semakin dekat, Martin menyadari bahwa Juhoon bukan sekadar omega pendiam. Ada sesuatu yang disembunyikan di balik ketenangannya - aroma yang terlalu lembut, reaksi yang terlalu lambat, dan tatapan yang seolah menyimpan kesepian mendalam.
Dan yang paling berbahaya...
Juhoon tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi pusat dunia seorang alpha dominan.
Ketika masa sensitif omega mulai muncul dan rahasia Juhoon perlahan terbongkar, Martin harus memilih tetap menjaga jarak demi keselamatan Juhoon, atau melindunginya dengan cara yang mungkin membuatnya semakin terikat.
Di sekolah yang penuh hierarki alpha-beta-omega, hubungan mereka bukan hanya soal perasaan.
Ini soal kepemilikan. Kepercayaan. Dan keberanian untuk dicintai.
Karena terkadang, omega paling sunyi justru yang paling sulit dilepaskan.
All Rights Reserved