Between 2 Religions (On Going)

Between 2 Religions (On Going)

  • WpView
    Reads 124
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 26, 2026
"Aku siap mualaf, Za," ujar El dengan suara rendah namun penuh kesungguhan. Mata Azalea langsung berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat itu. "Aku tidak ingin mengambilmu dari Tuhanmu, El," bisiknya lirih. El menggeleng pelan. Tatapannya lembut, tapi juga penuh keyakinan. "Kamu tidak mengambilku dari Tuhanku," jawabnya pelan. Hening sejenak. Hanya ada jarak tipis di antara mereka, namun terasa seperti jurang yang sangat dalam. ••••• Azalea tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini; jatuh cinta pada seorang laki-laki yang berbeda keyakinan dengannya. Laki-laki yang bernama Elzayn. DILARANG PLAGIAT!!!!
All Rights Reserved
#2
dilema
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa
  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua
  • I'm the male lead's wife?
  • Stand by Me
  • A dan Z
  • NANGGALA
  • Prahara Lamaran [END]

Cerita ini ada di paijo juga. --- Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines