Same Place, Different Taste

Same Place, Different Taste

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 18, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Eunrae Caellyn Virelle bukan tipe gadis yang akan kau ingat dalam sekali pandang. Ia tidak bersinar, tidak pula berusaha terlihat. Kehadirannya lebih mirip bayangan—ada, tapi sering diabaikan. Rambut hitamnya jatuh tanpa usaha, sedikit berantakan seolah tak pernah benar-benar dirapikan. Wajahnya pucat, dengan mata yang terlalu lelah untuk seseorang seusianya. Bukan karena kurang tidur, tapi karena terlalu banyak hal yang ia pendam sendirian. Tatapannya kosong, seperti seseorang yang sudah terlalu sering kecewa hingga tak lagi berharap. Senyumnya jarang terlihat—dan jika pun ada, rasanya lebih seperti kebiasaan daripada kebahagiaan. Tangannya sering saling menggenggam, seolah mencoba menahan sesuatu yang tak terlihat. Entah amarah, entah tangis, atau mungkin… dirinya sendiri yang perlahan runtuh. Rae bukan gadis yang keras. Ia hanya seseorang yang terlalu sering dipatahkan, sampai akhirnya lupa bagaimana rasanya menjadi utuh.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GHAIKA (REVISI)
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines