Di bawah langit Bandung yang seringkali muram, Liviana Kalista adalah perwujudan dari ketenangan sujud yang panjang. Baginya, iman adalah kompas yang tidak boleh kehilangan arah, sebuah ritme hidup yang terjaga dalam bait-bait selawat dan hangatnya jilbab yang ia kenakan. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, hingga semesta mempertemukannya dengan Alverrel Arliando.
Alverrel adalah melodi yang berbeda. Ia adalah gema nyanyian pujian di hari Minggu, seorang pemuda Kristen Protestan yang membawa kasih dalam setiap tindakannya, namun terpisah tembok tebal yang tak kasatmata dari dunia Liviana.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kesalahan, namun sebuah anomali yang indah. Di antara obrolan tentang mimpi dan kopi, mereka menemukan bahwa jiwa mereka bicara dalam bahasa yang sama, meski cara mereka menyebut nama Tuhan berbeda.
Cinta pun tumbuh, mekar di sela-sela perbedaan yang kian meruncing. Liviana menemukan kenyamanan pada ketulusan Alverrel, sementara Alverrel menemukan kedamaian pada keteguhan prinsip Liviana. Namun, seiring waktu, mereka mulai menyadari bahwa mencintai satu sama lain berarti berdiri di ambang pengkhianatan terhadap akar mereka masing-masing.
Konflik memuncak saat realita mulai menuntut jawaban. Keluarga Liviana yang memegang teguh tradisi Muslim dan prinsip Alverrel yang tak ingin melepas salibnya menjadi jurang yang kian lebar. Mereka terjebak dalam dilema yang menyayat: memilih untuk tetap setia pada Tuhan yang mereka sembah, atau menyerah pada rasa yang mereka puja.
Apakah cinta cukup kuat untuk menjembatani dua rumah ibadah yang berbeda? Ataukah mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa dalam semesta ini, ada dua orang yang diciptakan untuk saling mencintai, namun tidak untuk bersama selamanya?
DILARANG KERAS PLAGIAT!!! ⚠️⚠️
SEKALI LAGI. DILARANG. PLAGIAT. ⚠️⚠️
All Rights Reserved