Di koridor SMA Garuda, nama Vier adalah sinonim dari pemberontakan. Dengan jaket jeans pudar dan sorot mata sedingin es, ia memimpin kelompok paling disegani bukan karena haus kekuasaan, tapi karena ia sudah lama berhenti peduli pada aturan dunia yang dianggapnya munafik. Bagi Vier, sekolah hanyalah persinggahan membosankan tempat ia bisa tertidur di kelas atau menghilang di balik sunyinya atap gedung. Fokusnya nol, dan ambisinya sudah lama terkubur bersama ketidakpastian hidupnya.
Namun, sebuah lemparan bola basket mengubah segalanya.
Satu sore di gedung olahraga yang sepi, Vier menyaksikan Galang. Sang Kapten Basket itu tidak hanya sedang memasukkan bola ke ring; ia sedang menunjukkan sesuatu yang tidak dimiliki Vier: Tujuan. Senyum tulus Galang saat berhasil mencetak angka dan gairahnya yang meledak-ledak perlahan meruntuhkan dinding pertahanan yang dibangun Vier selama bertahun-tahun.
Demi bisa berdiri di samping Galang, Vier memutuskan untuk melakukan hal yang paling mustahil: Berhenti menjadi bayangan.
Dari seorang berandalan yang hobi bolos, Vier mulai berjuang mengejar ketertinggalan nilai, menanggalkan label "troublemaker", dan belajar untuk tersenyum kembali. Namun, Vier ratu jalanan menjadi gadis ceria yang menemukan kembali arti kebahagiaan?
Tutti i diritti riservati