Berandalan & Kapten basket

Berandalan & Kapten basket

  • WpView
    Reads 109
  • WpVote
    Votes 37
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 15, 2026
Di koridor SMA Garuda, nama Vier adalah sinonim dari pemberontakan. Dengan jaket jeans pudar dan sorot mata sedingin es, ia memimpin kelompok paling disegani bukan karena haus kekuasaan, tapi karena ia sudah lama berhenti peduli pada aturan dunia yang dianggapnya munafik. Bagi Vier, sekolah hanyalah persinggahan membosankan tempat ia bisa tertidur di kelas atau menghilang di balik sunyinya atap gedung. Fokusnya nol, dan ambisinya sudah lama terkubur bersama ketidakpastian hidupnya. ​Namun, sebuah lemparan bola basket mengubah segalanya. ​Satu sore di gedung olahraga yang sepi, Vier menyaksikan Galang. Sang Kapten Basket itu tidak hanya sedang memasukkan bola ke ring; ia sedang menunjukkan sesuatu yang tidak dimiliki Vier: Tujuan. Senyum tulus Galang saat berhasil mencetak angka dan gairahnya yang meledak-ledak perlahan meruntuhkan dinding pertahanan yang dibangun Vier selama bertahun-tahun. ​Demi bisa berdiri di samping Galang, Vier memutuskan untuk melakukan hal yang paling mustahil: Berhenti menjadi bayangan. ​Dari seorang berandalan yang hobi bolos, Vier mulai berjuang mengejar ketertinggalan nilai, menanggalkan label "troublemaker", dan belajar untuk tersenyum kembali. Namun, Vier ratu jalanan menjadi gadis ceria yang menemukan kembali arti kebahagiaan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu
  • Blueprint Pelarian Villain
  • The Time
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • I'm Not Just a Figuran
  • GRAVARENZO
  • GHAIKA (REVISI)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines