Chronic Flare, Chronic want

Chronic Flare, Chronic want

  • WpView
    Reads 90
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadComplete Sat, Jul 11, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Soraya hidup dengan kondisi autoimun yang tak terlihat - hari‑harinya diisi jadwal obat, tes darah, dan rasa lelah yang selalu mengintai. Di tengah fluktuasi remisi dan flare, ia belajar menyamarkan kecemasan dan menyeret senyumnya ke permukaan agar dunia tak menilai rapuhnya. Kehidupan Soraya berubah saat ia bertemu Arventino: pria dingin, terkontrol, dengan tatapan yang mampu membekukan ruang. Di hadapannya, orang lain melihat isyarat bahaya - peringatan yang tak pernah muncul tanpa alasan. Namun anehnya, pada Soraya ia memberi sesuatu yang berbeda: perhatian yang intens, proteksi yang mengekang, sentuhan yang menyingkap luka lama dan menutupinya sekaligus. Arventino adalah teka‑teki yang ingin dimiliki dan ditaklukkan. Ia obsesif dalam cara yang membuat napas Soraya terhenti dan sekaligus membuatnya merasa aman untuk pertama kali. Sikap posesifnya mengubah rutinitas Soraya-dari cara dokter memeriksa catatan medisnya sampai siapa yang boleh mengiriminya pesan-namun setiap tindakan kekangan itu selalu dibungkus sebagai "perhatian" yang hanya untuknya. Ketika flare penyakit datang, Arventino ada di sana dengan cara yang intens: menunggu di ruang tunggu, menahan tangannya saat demam menggeliat, menolak siapa pun yang mencoba mendekat. Green flag untuk Soraya, red flag untuk dunia - dan itu memikat sekaligus menakutkan. Konflik muncul ketika batas antara perlindungan dan kepemilikan pudar. Soraya harus memilih: menerima cinta yang membungkusnya dengan rantai, atau melawan obsesi yang bisa menyembuhkan sekaligus menghancurkan. Sementara masa sakit memaksa tubuhnya gentar, Arventino mengungkap sisi paling gelapnya-rahasia yang dapat menempatkan Soraya pada posisi di mana ia tidak lagi tahu apakah rasa aman yang ia rasakan berasal dari cinta, kondisinya, atau dari ketergantungan yang sengaja diciptakan.
All Rights Reserved
#9
cintaposesif
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula
  • Kembang Desa
  • Stand by Me (END + MASIH BERANTAKAN, INI TULISAN PERTAMA GUE WOI MAKANYA BRNTKN)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines