Satu Akad Untuk Selamanya
Zahra Humaira telah mengenakan cadar sejak usia dua belas tahun. Di usia delapan belas, ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat itu.
Bukan karena cinta.
Bukan karena pilihan hatinya sendiri.
Melainkan karena takdir yang mempertemukannya kembali dengan putra pemilik pondok tempat ia menuntut ilmu - Rayyan Mahendra Al-Farizi, lulusan Al-Azhar Cairo, pendakwah muda yang dikenal tegas, menjaga pandangan, dan tidak mudah tersenyum pada wanita.
Proses mereka bukan pacaran.
Bukan hubungan tersembunyi.
Semua dimulai dari ta'aruf.
Berlanjut pada khitbah.
Dan diikat dalam satu akad yang suci.
Namun pernikahan bukan hanya tentang ijab kabul.
Zahra harus belajar menjadi istri seorang pendakwah.
Belajar menghadapi sifat Rayyan yang cemburuan, posesif dalam penjagaan, namun manja dalam diam.
Belajar mengganti panggilan "Gus" menjadi sebutan yang lebih dalam maknanya.
Sementara Rayyan pun harus belajar-
bahwa memimpin bukan berarti menguasai,
dan mencintai bukan berarti melembutkan prinsip.
Di antara adab, tanggung jawab, dan rasa yang tumbuh perlahan...
Akankah satu akad itu benar-benar cukup untuk selamanya?